Wednesday, January 27, 2010

SIAPKAH KITA?

Mungkin ini yang menjadi pertanyaan setiap orang ketika ia akan menghadapi sesuatu hal, siapkah saya?. Seringkali kita tidak merasa siap walaupun kita telah berusaha dengan sebaik-baiknya, karena kita takut gagal, maka kita membuat persiapan yang sebaik-baiknya agar peluang kegagalannya semakin kecil.


Namun, bukankah kita takkan pernah benar-benar siap?, kita tidak bisa berkata “saya siap” sebelum menghadapi hari H-nya. Kita baru bisa menilai apakah diri kita siap atau tidak setelah kita mengalami kejadian itu dan bukan sebelumnya.


Kita takkan pernah siap dengan pertemuan, kehilangan, dan semua yang terjadi dalam kehidupan kita dan bukankah itu yang membuat kita berusaha memberikan yang terbaik? Kita berusaha memberikan yang terbaik karena kita takut akan kegagalan, walaupun kita sendiri sadar mungkin kita takkan sampai pada titik itu, yah… titik dimana kita bisa menjawab semua pertanyaan dan keraguan yang ada dalam kehidupan kita, mungkin memang kita bukan orang yang terbaik, ada yang mungkin beratus kali lebih baik dari kita.
Mungkin kalimat yang terbaik bukanlah siapkah saya, tapi bisakah saya memberikan yang terbaik untuk mereka dan diri kita sendiri, dan siapa yang bisa menjawabnya? Hanya kita…

Thursday, January 7, 2010

Kesadaran itu menyakitkan

Memang kesadaran itu menyakitkan, maka orang-orang yang akan menjalani operasi harus di bius dulu =)


Kesadaran dalam bentuk apapun itu memang menyakitkan, kesadaran itu seperti pisau yang merobek tameng yang selalu kita gunakan untuk berlindung. Banyak dari kita yang menyadari sesuatu yang tidak benar dan membiarkannya hanya karena kita tak ingin menyadari kenyataannya seperti itu, atau bahkan lebih buruk.


Kita lebih suka hidup dengan kebohongan-kebohongan yang kita sendiri tahu itu terjadi, kita tak ingin mengubahnya dan membiarkannya berulang dan berulang lagi.


Kesadaran itu menyakitkan, namun itu juga membuka mata kita bahwa hidup ini tak sempurna, kita juga tidak sempurna. Jika kita menyadari diri kita tidak sempurna maka kita akan mencari jalan untuk memperbaikinya, namun jika kita bersikap sebaliknya, kapan kita akan coba melihat apa yang ada dan tidak ada dalam diri kita? Jika kita sakit dan merasa itu sakit maka kita akan bergerak untuk mencari obatnya, atau minimal mencari cara agar sakitnya tidak begitu terasa, dan itu bukan dengan cara “melegalkan” kebohongan-kebohongan agar diri kita merasa sedikit lebih baik.


Karena itu menyakitkan dan mungkin amat sakit, maka tak semua orang punya keberanian untuk menghadapinya, tapi bukankah semua obat yang menyembuhkan itu terasa pahit?

Masihkah Agama Penting Bagi Kita?

Masih pentingkah agama penting bagi kita? Mungkin untuk sebagian orang itu bukan pertanyaan yang penting, bukan pertanyaan yang penting atau mungkin kita tidak menggapnya penting untuk kita? Mungkin


Seringkali kita melihat agama menjadi media pembenar sebuah tindakan yang memang salah, agama hanya menjadi stempel bahwa kita orang yang “lurus”, lurus kemana? Ke surga atau malah lurus ke neraka?
Agama seringkali dimaknai tak lebih dari sebuah ritual atau malah sebuah doktrin yang harus kita ikuti karena memang dari sononya begitu. Banyak dari kita yang mengaku beragama tapi tidak paham dengan ajaran agamanya sendiri, kita hanya mengikuti agama sebagai sebuah ritual yang mesti begini, begitu, masuk tempat ibadah sebagai “malaikat” dan keluar dari sana kembali menjadi setan dalam arti sebenarnya.


Agama seharusnya dianggap sebagai kebutuhan bagi manusia, agama tidak butuh kita, tapi kita butuh agama untuk mengarahkan kita menjadi seseorang yang sedikit lebih baik dari kemarin-kemarin. Agama bukanlah sebatas ritual yang harus kita ikuti, namun lebih kepada panggilan jiwa bahwa memang ada Tuhan diatas sana dan kita sebagai mahluk yang diciptakannya wajib menyembah kepadanya, jadi bersyukurlah orang-orang yang mengikuti agama karena hatinya terpanggil dan bukan karena lingkungan, orangtua, teman dan lain sebagainya


Beruntunglah orang-orang yang melihat agama sebagai kebutuhan hidup, sepertihalnya mereka makan dan minum, memang seharusnya kita begitu, jika kita makan maka kita akan mencari makanan yang lebih enak lagi, begitupun dengan agama, jika kita bisa lebih baik di bandingkan dengan kemarin, maka kita seharusnya ingin makin lebih baik lagi esok.


Agama tidak butuh kita, tapi kita butuh agama, walaupun kadang kita merasa agama membebani kita, semua itu dikarenakan Tuhan ingin menjadi kita seseorang yang lebih baik, Cuma kadang kita terlalu egois untuk mendengarkan Nya.

Wednesday, January 6, 2010

Januari 07 2010

Kadang perih itu terasa, sangat
kehilangan itu tak jua lepas
kosong itu masih ada, lekat
kadang harapan karamkanku, sesaat
memecahku dalam kalut dan senyap
kadang ku memohon untuk mati
memohon semua ini usai
untuk akhiri semua ini atau setidaknya menepi

ku lelah berlari diantara pertanyaan
diantara bimbang dan rotasi
ku lelah bertahan dan mencoba mengerti
tak ada ruang bagiku tuk berhenti
ini adalah jalan satu arah dan tak ada perputaran lagi

ku tak ingin penyelamat atau siapapun disini
tidak aku, tidak jua kau
aku, hanya aku, karena ku memang sendiri
karena ku memang selalu sendiri

namun jika kau ingin
duduklah disini dekatku
jangan berkata, peluk aku, peluk aku sangat
dekap aku erat seakan kau takkan pernah relakan ku pergi
jangan berkata, tolong jangan berkata
ku tak bisa mendengar, ku tak bisa merasa

dekapku erat hingga ku rasa kau disitu
pelukku erat, hingga kurasa kau hadir untukku
ada disini tuk selalu

Tuesday, January 5, 2010

Tahun baru, resolusi baru?

Tak terasa kita telah sampai ke tahun yang baru, tahun yang lalu telah kita tinggalkan dan tidak akan pernah kembali lagi. Seiring dengan dimulainya tahun yang baru, banyak dari kita yang kembali membuat resolusi untuk tahun ini, dan mungkin seperti itulah tradisi yang kita lakukan, buat resolusi demi resolusi , tidak salah sih, Cuma apakah kita pernah cek lagi – resolusi yang tahun kemarin kita ucapkan, ada berapa yang terwujud, ada berapa yang gagal, atau malah sebagian besar dari itu Cuma sebagai resolusi doang alias ngga pernah dilaksanakan.

Bagi mereka yang membuat resolusi umunya temanya sama, yaitu tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, resolusi yang mungkin bisa dibilang terlalu umum, atau mungkin kita ngga tahu mau membuat resolusi tentang apa, jadi langkah amannya kita buat resolusi yang umum saja, jadi suka-suka kita mentafsirkan resolusi itu, resolusi juga bisa dijadikan langkah yang ampuh untuk memompa semangat kita menghadapi tahun yang baru. Mungkin bisa dibilang sebagai tambahan bahan bakar kita agar kita lebih optimis di tahun-tahun mendatang, dan ini bisa digunakan apabila kita mulai kehabisan bahan bakar dan nafas di penghujung tahun =)

Jika kita harap tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, itu sudah “kewajiban”, nah sekarang pertanyaannya adalah bagaimana? Bukan masalah sejauhmana kita menginginkan tahun ini lebih baik, tapi bagaimana cara untuk mencapainya. Seringkali kita membuat resolusi yang tinggi, sedangkan kita tak tahu bagaimana cara mencapainya dan akhirnya pada ujung tahun itu akan tetap jadi resolusi yang sebatas resolusi, bukan resolusi yang menjadi kenyataan dan begitu berulang-ulang

Belajarlah untuk menyerah

Menyerah? Mungkin yang akan kamu pikirkan adalah sebuah kekalahan, bukan sebuah cara yang bisa dibilang gentleman untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Di satu sisi mungkin iya, tapi disisi yang lain bisa saja tidak. Menyerah disini bukan dalam arti merelakan tanpa perjuangan, tapi mungkin ada saat dimana kita telah sampai di suatu titik disaat kita sudah coba yang kita bisa mungkin disitulah kita juga harus bersiap untuk mendapatkan hasilnya, baik yang terbaik, maupun yang terburuk. Bukan kita berharap yang terburuk, tapi setidaknya kita sudah mencoba.

Kita tak mungkin mendapatkan semua yang kita inginkan, ada saat dimana semua mungkin dan ada saat pula dimana semuanya menjadi tidakmungkin. Kegagalan dalam apapun bentuknya pasti membuat orang kecewa, apalagi disaat kita telah berusaha untuk mendapatkannya, tapi bukan kegagalan yang semestinya menjadi tolok ukur kita, namun seberapa jauh kita bisa menerima sebuah kegagalan itu.

Idealnya jika kita sanggup untuk berjuang untuk seseorang atau sesuatu, seharusnya keinginan kita juga sebesar itu bila kita tak mampu mendapatkannya, jika kau dapat memberikan 120% untuk orang lain maka seharusnya kau juga siap 120% untuk tanpa orang lain.

Sunday, January 3, 2010

Apa yang orangtua sering lewatkan

Menjadi orangtua memang tidak mudah, dan karena itulah tidak ada orang benar-benar siap menjadi orangtua. Menjadi orangtua adalah sebuah proses belajar, belajar dari orang lain dari pengalaman dan lain sebagainya. Namun dengan posisi kita sebagai orangtua, tidak menjadikan kita tahu segalanya, kadang malah sebaliknya dan itu mengakibatkan hubungan yang kurang ideal antara orangtua dan anak-anaknya.

Memang tidak ada orangtua yang sempurna, semua punya kekurangannya, hanya mungkin ada beberapa hal yang cukup mengganggu dalam sebuah hubungan keluarga, seperti kurangnya niat untuk mendengar dan egoisitas orangtua dalam membangun keluarganya, namun bagaimanapun kita harus sadar bahwa adalah keinginan semua orangtua untuk melihat anak-anak mereka berhasil, walalu kadang mereka tak tahu bagaimana menyampaikannya ke anak-anak mereka agar mengerti

Cobalah untuk mendengar
Mungkin ini yang sering menjadi permasalahan antara orangtua dan anak, seringkali orangtua merasa tahu segalanya, sehingga mereka berhak menentukan apa yang baik dan apa yang tidak. Mereka pernah muda, memang benar, tapi adakah mereka meluangkan waktu untuk diam sesaat dan mendengar dari sisi anak-anak mereka, berhentilah berkata tidak karena itu takkan berjalan. Cobalah untuk mendengar dan jadikan mereka sebagai sahabat, sebagai teman dan jangan jadikan mereka sebagai bawahan yang harus mengikuti apa yang kita katakan. Seringkali orangtua menghadapkan anak-anak mereka seperti halnya dalam rapat, atau malah dalam kondisi yang lebih buruk lagi: seperti interogasi, dan siapapun pastinya tidak akan nyaman dalam kondisi seperti itu.
Ketidakinginan untuk mendengar juga mengakibatkan anak-anak tidak terbuka pada orangtua mereka, terutama menyangkut masalah-masalah yang menurut mereka sensitif dan bukankah ini akan menjadi kerugian kita juga?.

Jadikan mereka seperti mereka dan bukan seperti kita
Mereka adalah mereka dan bukan kita, tidak seharusnya kita menjadikan mereka seperti kita. Banyak orangtua yang “play god” dalam kehidupan anak-anak mereka, menentukan apa yang seharusnya menjadikan mereka seperti boneka. Memang benar kita adalah orangtuanya dan kita punya kewajiban untuk menjadikan hidup mereka lebih baik, mereka akan sedih bila menemukan anaknya dalam keadaan yang sebaliknya, namun jangan jadikan mereka boneka kita, mereka punya dunianya sendiri sepertihalnya kita. Alangkah menyedihkan melihat orangtua yang merasa bangga melihat anaknya menjadi seperti dia dan bukan seperti yang mereka mau.

Kita tidak sempurna dan takkan pernah sempurna
Kita memang tak pernah sempurna, jika dulu kita pernah merasakan masa-masa sulit, tentusaja kita tak ingin anak-anak kita merasakan hal yang sama pula, namun bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Jika mereka tidak pernah merasakan masa sulit bagaimana mereka akan menghargai apa yang mereka dapatkan disaat ini?
Jangan jadikan mereka buta karena mereka tak pernah melihat kenyataan diluar sana. Biarkan mereka menemukan arahnya sendiri dengan segala yang mereka punya, kita sebagai orangtua hanya mengarahkan ini yang semestinya dan itu tidak
Biarkan mereka menyadari ketidaksempurnaan mereka dan mencari cara untuk menggenapinya, karena tiap manusia memang diciptakan berbeda. Kita tak dapat “play god” terhadap mereka hanya karena kita adalah orangtua mereka.

Berilah contoh yang baik
Banyak orangtua yang mengatakan hal-hal baik pada anak mereka, namun mereka seringkali mencontohkan hal-hal yang sebaliknya, mereka dengan amat sangat sadar menampilkan ambiguitas antara yang mereka sampaikan dan apa yang mereka lakukan.
Anak-anak yang menerima ambiguitas seperti itu secara tidak langsung akan memaknai bahwa tindakan seperti itu di bolehkan. Kenapa? Karena orangtua mereka melakukannya. Bukankah anak-anak adalah cermin dari orangtuanya? Jika anak kita berbuat salah sebelum kita marah kepada mereka mungkin hal pertama yang perlu kita tanyakan adalah diri kita sendiri. Sudahkah kita memberikan contoh yang benar kepada mereka, jangan-jangan mereka berbuat seperti ini karena mereka melihat orangtuanya berlaku demikian

10 Steps To Heal Broken Heart (6-10)

6.Ini hidupmu
Banyak orang yang demi orang lain akhirnya menghancurkan hidupnya. Jika dilihat dari sudut pandang apapun itu memang salah, tapi kita tidak dengan mudah mempersalahkan mereka bila mereka mengambil keputusan seperti itu. Banyak hal yang mendorong seseorang mengambil tindakan yang secara akal sehat bisa dibilang tidak benar. Tapi bagaimanapun pernahkah kita berpikir bahwa ini adalah hidup kita, dan bagaimanapun ini akan jadi milik kita, atau dengan kata lain baik atau buruknya akan kembali ke kita, bukan ke orangtua kita, teman atau sahabat ataupun orang lain.
Pernahkah kita berpikir jika suatu saat kau menghancurkan hidupmu untuk seseorang yang kau sayang dan ternyata dia sama sekali tidak peduli denganmu, apakah itu adil? Hidup ini memang tidak adil, tapi jangan jadikan itu alasan bagimu untuk membenarkan tindakanmu. Apakah jika kau hancur kemudian dia akan kembali padamu? Jika kau hancur dan dia kembali, apakah semuanya akan baik-baik saja? Mungkin tidak, mungkin akan lebih buruk dari apa yang penah kau pikirkan
Kita hidup untuk orang lain, akan sangat menyakitkan melihat orang yang kita sayang hancur dihadapan kita dan kita tak dapat melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya, dan itu juga yang akan dirasakan oleh orang-orang terdekat kamu. Mungkin kamu pernah mendengar sebuah kutipan yang mengatakan “bila rintangan itu terasa semakin berat, ingatlah pertolongan akan segera datang”, mungkin itu memang benar, ada kalanya kita tak perlu melawan, kita hanya perlu duduk diam dan tetap bertahan untuk esok, karena esok pertolongan akan datang =)

7.Ubah fokusmu
Coba ubah fokusmu, cari kegiatan lain yang mungkin bisa mengalihkan pikiranmu sejenak dari memikirkan semua yang membuatmu down, coba habiskan waktumu dengan menjalani hobimu, kumpul dengan teman-teman, atau apapun yang dapat kau lakukan untuk mengisi kekosongan waktumu.
Jika kau belum siap untuk mengisi ruang kosong yang dia tinggalkan maka jangan kau paksa dirimu. Banyak orang yang mencari pengganti hanya untuk mengisi seruang kosong itu. Memang sebagian berguna, tapi mungkin tidak. Kita ingin mengisinya karena kita takut merasa kehilangan, kita takut merasa kesepian dan tak ada seorangpun disitu dan jika kau mencari orang lain hanya untuk menutup rasa kosong di hatimu, mungkin seperti itulah kau menghargai perasaanmu.
Ubah fokusmu, bukan dalam arti kau melarikan diri dari kenyataan yang kau hadapi, hanya sejenak untuk menyingkir dari segala kekacauan ini, waktu untuk berpikir dan mungkin kau akan menemukan jalan keluar yang lebih baik dari apa yang pernah kau pikirkan, kita tak pernah tahu..

8.Sederhanakan harapanmu
Tidak ada yang instan dalam kehidupan ini, jika kau terluka sekarang tidak mungkin dalam waktu 2 hari semua akan baik-baik saja. Jika seseorang mengatakan aku terluka dan beberapa hari kemudian dia baik-baik saja kita dapat memperkirakan apa yang dia bilang itu bohong.
Hati mungkin bisa dibilang seperti tubuh, jika dia terluka parah tak mungkin sembuh dalam hitungan hari, mungkin minggu, mungkin pula tahun dan meskipun luka itu telah sembuh mungkin bekasnya takkan hilang dan rasa sakitnya kadang kembali lagi. Begitupun dengan hati, kita tak bisa mengatakan dengan pasti 2 minggu lagi aku akan baik-baik saja. Banyak orang yang terlihat baik, namun di dalam hatinya ternyata sebaliknya. Yang tahu hatimu hanya kau dan Tuhan (tentu saja) dan semua itu perlu proses. Yang perlu kau lakukan Cuma 1 kembalikan apa yang hilang dari dirimu – dan kau tahu apa itu, jika ia tidak kembali, tak perlu ruang itu kau isi dengan yang lain hanya untuk menyenangkan hatimu karena itu tidaklah berguna. Kau pernah dengar kalimat “100 mil itu dimulai dari 1 langkah” dan itu memang benar, kita tak perlu melihat akan sampai mana kita nanti, kita hanya cukup ambil 1 langkah saja, lalu 1 langkah lagi

9.Terimakasih pada Tuhan
Berterimakasihlah pada Tuhan atas setiap momen yang telah Ia beri untuk kita. Walapun kita kecewa, yakinlah Tuhan adalah sebaik-baik perencana bagi mahluknya. Kadang kita berpikir Tuhan itu tidak adil, mengapa disaat seperti ini kita dipisahkan, kenapa tidak nanti dan lain sebagainya. Bahkan mungkin kita juga pernah berpikir kalau begini Tuhan jahat sama saya karena memberikan perasaan ini, mempertemukan aku dengan dia dan memisahkan kita kemudian. Sebenarnya tidak begitu kenyataannya, Tuhan mempertemukan kita dengan kenyataan seperti ini untuk sebuah alasan yang mungkin kita tidak mengerti.
Tidak ada yang salah dengan semua ini, mungkin suatu saat nanti kita akan berpikir, entah 5 tahun atau 12 tahun lagi bahwa mungkin memang begini jalannya.

10.Berdoa
Bagian terakhir, yaitu tetaplah berdoa. Bukankah Tuhan senang apabila hambanya meminta kepada Nya?, bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang meminta yang terbaik baginya, dan hanya pada Yang Kuasa lah semua itu mungkin. Jadi jangan putus asa bila rasa itu tak jua hilang walaupun kau telah berusaha, ingatlah semua itu adalah punya Tuhan.
Bila kau masih punya rasa, itu berarti Tuhan masih percaya sama kamu dengan menitipkan perasaan itu, dan bila Tuhan menentukan saatnya semua itu usai maka niscaya Ia akan mengangkat perasaan itu dari hatimu dan Tuhan melakukannya untuk satu tujuan: menguji dirimu, apakah kau layak untuk mendapatkan yang lebih baik dari Nya atau tidak.

10 Steps To Heal Broken Heart (1-5)

1. Jujur pada diri sendiri
Banyak orang yang ketika terluka ia mengatakan baik-baik saja, padahal ia sama sekali tidak baik sama sekali. Banyak orang yang terlihat baik-baik saja diluar, tetap merasa seperti orang lain tetapi ketika ia sendirian ia akan menangis sejadi-jadinya. Banyak orang yang tidak jujur bahkan kepada dirinya sendiri ketika menyangkut perasaan terhadap orang lain, benar perasaan itu membuat kita menjadi amat sangat subyektif, tapi bagaimanapun kita tidak bisa melihat dari sisi subyektifitas kita sendiri. Bahkan dalam beberapa kasus kita lebih baik dibohongi dan kita dengan amat sangat sadar bahwa kita dibohongi dan menganggapnya fine karena kita tak ingin terluka jika melihat kenyataannya ternyata berbeda.
Dengan alasan perasaan juga kita kadang menjadi amat sangat toleran terhadap kesalahan-kesalahan yang dalam kondisi umum kita tak dapat terima, betapa kita kadang terlalu sering membiarkan seseorang melakukan kesalahan yang sama karena kita merasa sayang pada mereka dan kita tak ingin hanya karena kita berkata tidak maka membuat mereka menjauh dari kita dan menghancurkan segala yang kita ingin bangun dan jaga
Cobalah jujur, minimal untuk diri kita karena bagaimanapun ini takkan berjalan bila kita tak mulai dari dalam diri kita. Kita tak perlu berpura-pura jadi orang lain dan menganggap semua baik-baik saja saat kau merasa begitu hancur didalam, kita juga tak perlu berpura-pura kuat padahal kita sebaliknya begitu rapuh.
Jujur juga berarti kau meringankan sedikit beban yang kau simpan, jangan habiskan waktumu untuk menyangkal apa yang sebenarnya kau rasa, kita semua punya alasan, memang benar kita semua punya alasan mengapa kita berusaha mempertahankan sebuah hubungan, tapi tidak dengan membohongi dirimu dan apa yang kau rasa

2.Jangan salahkan orang lain
Jika sesuatu tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan tentu kita kecewa, dan langkah paling mudah untuk merecovernya adalah dengan menunjuk orang lain sebagai sumber kesalahan. Tapi bukankah sebuah hubungan yang kita bangun yang menentukan kearah mana ini kan berlanjut itu kita sendiri, orang lain memang berperan sebagai setan atau sebagai malaikat dalam hubungan kita, tetapi yang menentukan ini dan itu adalah kita.
Menunjuk orang lain sebagai faktor utama sebuah kehancuran itu bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana, mungkin memang sedari awal ada yang salah dalam hubungan kita, tapi kita tak pernah menyadarinya, atau mungkin kita sadar tapi kita tak berusaha memperbaikinya, atau mungkin kita perbaiki tidak semuanya dan mengganggap semua akan selesai seiring waktu.
Hubungan bukanlah mainan yang kita ambil pada saat kita ingin dan membuangnya pada saat kita bosan, itu perlu waktu, tenaga dan pengertian dan mungkin lebih dari itu. Sebuah hubungan yang kuat tak mungkin muncul dalam 1 atau 2 bulan saja bahkan kita juga melihat banyak hubungan yang berjalan bertahun-tahun hancur begitu saja karena alasan yang bisa dibilang sepele.
Menyalahkan orang lain juga berarti kita membuat gambaran bahwa kita benar, apakah begitu? Coba kita lihat lagi, dengan menunjuk orang lain berarti kita tidak mengakui apa saja yang salah dalam hubungan kita, mungkin yang salah bukan dari sisi kita tapi mungkin dari sisi pasangan kita dan yang tahu hanya kita, bukan mereka.

3.Sadarilah apa yang terbaik
Banyak alasan mengapa hubungan yang kita berusaha bangun dan jaga malah berakhir dengan kekacauan dan tragedi, semua punya alasan. Semua yang terjadi dalam hidup kita punya alasan, kadang kita amat sangat kecewa mengapa ini semua bisa terjadi dalam kehidupan kita. Kenapa sekarang disaat kita merasa amat sayang, disaat kita ingin jaga semua ini dan ternyata semua itu sia-sia dan semua harapan yang kita bangun lenyap begitu saja.
Jika saja kita punya pilihan yang lebih baik saat itu mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini, tapi jika yang terbaik untuk kita adalah seperti ini, apa yang dapat kita lakukan lagi? Yang terbaik untuk kita, bukan yang terbaik untukku atau untukmu.
Bukanlah semestinya jika orang yang kita sayangi mendapatkan yang lebih baik kita juga turut merasa senang? Jika kita sayang terhadap sesuatu umumnya mendorong kita untuk memiliki, sedangkan memiliki adalah bentuk posesifitas atau mungkin egoisitas kita dalam sebuah hubungan. Memang sulit, disaat kita amat sayang hubungan yang kita perjuangkan itu runtuh begitu saja dan sekian waktu yang kita lalui bersama hilang begitu saja.
Bukankah cinta tak harus memiliki? Memang benar seperti itu, memiliki atau tidak sebenarnya itu bukan masalah, apa gunanya memiliki tapi kita tak pernah ada untuknya? Namun bagaimanapun dia harus tahu bahwa ada orang yang amat sayang padanya, dan tidak mau dia terluka untuk alasan apapun, dan jika dia memilih yang terbaik untuk dia dan itu bukan kita, itu adalah orang lain, mungkin memang mesti begitu. Jika kau teramat sayang padanya dan siap memperjuangkan segalanya untuknya, mungkin ini saatnya kita mulai belajar untuk melepaskan dia sebesar rasa sayang kita padanya dan semua itu punya alasan, tak ada satupun kejadian yang kita alami terjadi karena kebetulan.

4.Habiskan apa yang kau rasa
Mungkin cara yang paling mudah adalah dengan habiskan apa yang kau rasa, apapun itu semuanya. Setiap orang pasti akan merasa sangat kecewa bila hubungan yang telah ia bangun dengan niat yang baik hancur begitu saja, apalagi hanya karena alasan yang mungkin bisa dibilang sepele. Luapkan semua apa yang kau rasa, apakah itu dalam bentuk tangisan, amarah ataupun lainnya, jangan simpan untuk dirimu sendiri karena kau takkan tahu berapa banyak yang dapat kau simpan dan kau tahan.
Setiap emosi yang kau simpan pada dasarnya sama saja seperti menuangkan air dalam sebuah gelas, jika kau tidak ingin air itu meluap, setidaknya kau akan berusaha untuk menguranginya namun jangan terlalu banyak. Banyak orang dengan alasan yang sentimentil pada akhirnya menghasilkan berbagai output yang mengesankan, misalnya sebuah lagu, puisi, novel atau lainnya, sungguh ironis saat kita mengetahui sebuah karya yang bagus itu merupakan produk dari sebuah kehancuran.

5.Berbagi
Share alias berbagi, memang itu adalah salah satu cara untuk mengurangi beban yang kau rasa. Kadang pada saat kita tertekan kita tidak butuh seorangpun untuk memberitahu apa yang harus kita lakukan, tapi kita hanya butuh seseorang yang ada disaat kita ingin bercerita, seseorang yang ada untuk mendengarkan semua apa yang kita rasakan, hanya itu.
Dengan berbagi kita juga memberikan kontribusi pada orang lain (asal jangan dijadikan sebagai media untuk menjelek-jelekkan dan memanipulasi fakta tentang hubungan kita) dalam hubungannya diwaktu yang lain. Dengan berbagi kita juga “mendorong” orang lain untuk melihat sebuah kenyataan yang mungkin terjadi dalam hubungan yang sekarang ia jalani, maksudnya jikalau suatu saat hubungan dia memburuk mungkin dia akan ingat bahwa kita dulu juga begini, dan mungkin dia akan berbuat yang lebih baik dibandingkan kita sekarang.