Sunday, January 3, 2010

Apa yang orangtua sering lewatkan

Menjadi orangtua memang tidak mudah, dan karena itulah tidak ada orang benar-benar siap menjadi orangtua. Menjadi orangtua adalah sebuah proses belajar, belajar dari orang lain dari pengalaman dan lain sebagainya. Namun dengan posisi kita sebagai orangtua, tidak menjadikan kita tahu segalanya, kadang malah sebaliknya dan itu mengakibatkan hubungan yang kurang ideal antara orangtua dan anak-anaknya.

Memang tidak ada orangtua yang sempurna, semua punya kekurangannya, hanya mungkin ada beberapa hal yang cukup mengganggu dalam sebuah hubungan keluarga, seperti kurangnya niat untuk mendengar dan egoisitas orangtua dalam membangun keluarganya, namun bagaimanapun kita harus sadar bahwa adalah keinginan semua orangtua untuk melihat anak-anak mereka berhasil, walalu kadang mereka tak tahu bagaimana menyampaikannya ke anak-anak mereka agar mengerti

Cobalah untuk mendengar
Mungkin ini yang sering menjadi permasalahan antara orangtua dan anak, seringkali orangtua merasa tahu segalanya, sehingga mereka berhak menentukan apa yang baik dan apa yang tidak. Mereka pernah muda, memang benar, tapi adakah mereka meluangkan waktu untuk diam sesaat dan mendengar dari sisi anak-anak mereka, berhentilah berkata tidak karena itu takkan berjalan. Cobalah untuk mendengar dan jadikan mereka sebagai sahabat, sebagai teman dan jangan jadikan mereka sebagai bawahan yang harus mengikuti apa yang kita katakan. Seringkali orangtua menghadapkan anak-anak mereka seperti halnya dalam rapat, atau malah dalam kondisi yang lebih buruk lagi: seperti interogasi, dan siapapun pastinya tidak akan nyaman dalam kondisi seperti itu.
Ketidakinginan untuk mendengar juga mengakibatkan anak-anak tidak terbuka pada orangtua mereka, terutama menyangkut masalah-masalah yang menurut mereka sensitif dan bukankah ini akan menjadi kerugian kita juga?.

Jadikan mereka seperti mereka dan bukan seperti kita
Mereka adalah mereka dan bukan kita, tidak seharusnya kita menjadikan mereka seperti kita. Banyak orangtua yang “play god” dalam kehidupan anak-anak mereka, menentukan apa yang seharusnya menjadikan mereka seperti boneka. Memang benar kita adalah orangtuanya dan kita punya kewajiban untuk menjadikan hidup mereka lebih baik, mereka akan sedih bila menemukan anaknya dalam keadaan yang sebaliknya, namun jangan jadikan mereka boneka kita, mereka punya dunianya sendiri sepertihalnya kita. Alangkah menyedihkan melihat orangtua yang merasa bangga melihat anaknya menjadi seperti dia dan bukan seperti yang mereka mau.

Kita tidak sempurna dan takkan pernah sempurna
Kita memang tak pernah sempurna, jika dulu kita pernah merasakan masa-masa sulit, tentusaja kita tak ingin anak-anak kita merasakan hal yang sama pula, namun bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Jika mereka tidak pernah merasakan masa sulit bagaimana mereka akan menghargai apa yang mereka dapatkan disaat ini?
Jangan jadikan mereka buta karena mereka tak pernah melihat kenyataan diluar sana. Biarkan mereka menemukan arahnya sendiri dengan segala yang mereka punya, kita sebagai orangtua hanya mengarahkan ini yang semestinya dan itu tidak
Biarkan mereka menyadari ketidaksempurnaan mereka dan mencari cara untuk menggenapinya, karena tiap manusia memang diciptakan berbeda. Kita tak dapat “play god” terhadap mereka hanya karena kita adalah orangtua mereka.

Berilah contoh yang baik
Banyak orangtua yang mengatakan hal-hal baik pada anak mereka, namun mereka seringkali mencontohkan hal-hal yang sebaliknya, mereka dengan amat sangat sadar menampilkan ambiguitas antara yang mereka sampaikan dan apa yang mereka lakukan.
Anak-anak yang menerima ambiguitas seperti itu secara tidak langsung akan memaknai bahwa tindakan seperti itu di bolehkan. Kenapa? Karena orangtua mereka melakukannya. Bukankah anak-anak adalah cermin dari orangtuanya? Jika anak kita berbuat salah sebelum kita marah kepada mereka mungkin hal pertama yang perlu kita tanyakan adalah diri kita sendiri. Sudahkah kita memberikan contoh yang benar kepada mereka, jangan-jangan mereka berbuat seperti ini karena mereka melihat orangtuanya berlaku demikian

No comments:

Post a Comment