1. Jujur pada diri sendiriBanyak orang yang ketika terluka ia mengatakan baik-baik saja, padahal ia sama sekali tidak baik sama sekali. Banyak orang yang terlihat baik-baik saja diluar, tetap merasa seperti orang lain tetapi ketika ia sendirian ia akan menangis sejadi-jadinya. Banyak orang yang tidak jujur bahkan kepada dirinya sendiri ketika menyangkut perasaan terhadap orang lain, benar perasaan itu membuat kita menjadi amat sangat subyektif, tapi bagaimanapun kita tidak bisa melihat dari sisi subyektifitas kita sendiri. Bahkan dalam beberapa kasus kita lebih baik dibohongi dan kita dengan amat sangat sadar bahwa kita dibohongi dan menganggapnya fine karena kita tak ingin terluka jika melihat kenyataannya ternyata berbeda.
Dengan alasan perasaan juga kita kadang menjadi amat sangat toleran terhadap kesalahan-kesalahan yang dalam kondisi umum kita tak dapat terima, betapa kita kadang terlalu sering membiarkan seseorang melakukan kesalahan yang sama karena kita merasa sayang pada mereka dan kita tak ingin hanya karena kita berkata tidak maka membuat mereka menjauh dari kita dan menghancurkan segala yang kita ingin bangun dan jaga
Cobalah jujur, minimal untuk diri kita karena bagaimanapun ini takkan berjalan bila kita tak mulai dari dalam diri kita. Kita tak perlu berpura-pura jadi orang lain dan menganggap semua baik-baik saja saat kau merasa begitu hancur didalam, kita juga tak perlu berpura-pura kuat padahal kita sebaliknya begitu rapuh.
Jujur juga berarti kau meringankan sedikit beban yang kau simpan, jangan habiskan waktumu untuk menyangkal apa yang sebenarnya kau rasa, kita semua punya alasan, memang benar kita semua punya alasan mengapa kita berusaha mempertahankan sebuah hubungan, tapi tidak dengan membohongi dirimu dan apa yang kau rasa
2.Jangan salahkan orang lain
Jika sesuatu tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan tentu kita kecewa, dan langkah paling mudah untuk merecovernya adalah dengan menunjuk orang lain sebagai sumber kesalahan. Tapi bukankah sebuah hubungan yang kita bangun yang menentukan kearah mana ini kan berlanjut itu kita sendiri, orang lain memang berperan sebagai setan atau sebagai malaikat dalam hubungan kita, tetapi yang menentukan ini dan itu adalah kita.
Menunjuk orang lain sebagai faktor utama sebuah kehancuran itu bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana, mungkin memang sedari awal ada yang salah dalam hubungan kita, tapi kita tak pernah menyadarinya, atau mungkin kita sadar tapi kita tak berusaha memperbaikinya, atau mungkin kita perbaiki tidak semuanya dan mengganggap semua akan selesai seiring waktu.
Hubungan bukanlah mainan yang kita ambil pada saat kita ingin dan membuangnya pada saat kita bosan, itu perlu waktu, tenaga dan pengertian dan mungkin lebih dari itu. Sebuah hubungan yang kuat tak mungkin muncul dalam 1 atau 2 bulan saja bahkan kita juga melihat banyak hubungan yang berjalan bertahun-tahun hancur begitu saja karena alasan yang bisa dibilang sepele.
Menyalahkan orang lain juga berarti kita membuat gambaran bahwa kita benar, apakah begitu? Coba kita lihat lagi, dengan menunjuk orang lain berarti kita tidak mengakui apa saja yang salah dalam hubungan kita, mungkin yang salah bukan dari sisi kita tapi mungkin dari sisi pasangan kita dan yang tahu hanya kita, bukan mereka.
3.Sadarilah apa yang terbaik
Banyak alasan mengapa hubungan yang kita berusaha bangun dan jaga malah berakhir dengan kekacauan dan tragedi, semua punya alasan. Semua yang terjadi dalam hidup kita punya alasan, kadang kita amat sangat kecewa mengapa ini semua bisa terjadi dalam kehidupan kita. Kenapa sekarang disaat kita merasa amat sayang, disaat kita ingin jaga semua ini dan ternyata semua itu sia-sia dan semua harapan yang kita bangun lenyap begitu saja.
Jika saja kita punya pilihan yang lebih baik saat itu mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini, tapi jika yang terbaik untuk kita adalah seperti ini, apa yang dapat kita lakukan lagi? Yang terbaik untuk kita, bukan yang terbaik untukku atau untukmu.
Bukanlah semestinya jika orang yang kita sayangi mendapatkan yang lebih baik kita juga turut merasa senang? Jika kita sayang terhadap sesuatu umumnya mendorong kita untuk memiliki, sedangkan memiliki adalah bentuk posesifitas atau mungkin egoisitas kita dalam sebuah hubungan. Memang sulit, disaat kita amat sayang hubungan yang kita perjuangkan itu runtuh begitu saja dan sekian waktu yang kita lalui bersama hilang begitu saja.
Bukankah cinta tak harus memiliki? Memang benar seperti itu, memiliki atau tidak sebenarnya itu bukan masalah, apa gunanya memiliki tapi kita tak pernah ada untuknya? Namun bagaimanapun dia harus tahu bahwa ada orang yang amat sayang padanya, dan tidak mau dia terluka untuk alasan apapun, dan jika dia memilih yang terbaik untuk dia dan itu bukan kita, itu adalah orang lain, mungkin memang mesti begitu. Jika kau teramat sayang padanya dan siap memperjuangkan segalanya untuknya, mungkin ini saatnya kita mulai belajar untuk melepaskan dia sebesar rasa sayang kita padanya dan semua itu punya alasan, tak ada satupun kejadian yang kita alami terjadi karena kebetulan.
4.Habiskan apa yang kau rasa
Mungkin cara yang paling mudah adalah dengan habiskan apa yang kau rasa, apapun itu semuanya. Setiap orang pasti akan merasa sangat kecewa bila hubungan yang telah ia bangun dengan niat yang baik hancur begitu saja, apalagi hanya karena alasan yang mungkin bisa dibilang sepele. Luapkan semua apa yang kau rasa, apakah itu dalam bentuk tangisan, amarah ataupun lainnya, jangan simpan untuk dirimu sendiri karena kau takkan tahu berapa banyak yang dapat kau simpan dan kau tahan.
Setiap emosi yang kau simpan pada dasarnya sama saja seperti menuangkan air dalam sebuah gelas, jika kau tidak ingin air itu meluap, setidaknya kau akan berusaha untuk menguranginya namun jangan terlalu banyak. Banyak orang dengan alasan yang sentimentil pada akhirnya menghasilkan berbagai output yang mengesankan, misalnya sebuah lagu, puisi, novel atau lainnya, sungguh ironis saat kita mengetahui sebuah karya yang bagus itu merupakan produk dari sebuah kehancuran.
5.Berbagi
Share alias berbagi, memang itu adalah salah satu cara untuk mengurangi beban yang kau rasa. Kadang pada saat kita tertekan kita tidak butuh seorangpun untuk memberitahu apa yang harus kita lakukan, tapi kita hanya butuh seseorang yang ada disaat kita ingin bercerita, seseorang yang ada untuk mendengarkan semua apa yang kita rasakan, hanya itu.
Dengan berbagi kita juga memberikan kontribusi pada orang lain (asal jangan dijadikan sebagai media untuk menjelek-jelekkan dan memanipulasi fakta tentang hubungan kita) dalam hubungannya diwaktu yang lain. Dengan berbagi kita juga “mendorong” orang lain untuk melihat sebuah kenyataan yang mungkin terjadi dalam hubungan yang sekarang ia jalani, maksudnya jikalau suatu saat hubungan dia memburuk mungkin dia akan ingat bahwa kita dulu juga begini, dan mungkin dia akan berbuat yang lebih baik dibandingkan kita sekarang.
No comments:
Post a Comment