Tuesday, March 30, 2010

Forgive

Forgive dalam bahasa Indonesia berarti memaafkan, satu kata yang sederhana namun sulit dalam pelaksanaannya. Kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan antara memaafkan dan membalas dendam, dan banyak diantara kita yang lebih memilih membalaskan dendam ketimbang memaafkan.

Memaafkan adalah sebuah proses penerimaan bahwa hidup ini memang tidak sempurna, dan kita sebagai manusia pasti berbuat salah. Dengan memaafkan itu juga berarti kita belajar dari sebuah pengalaman bahwa tidak semua dapat berjalan seperti apa yang kita inginkan dan semua terjadi atas satu alasan.

Memaafkan adalah sebuah proses yang rumit dan melelahkan. Bagaimana kita bisa “berkompromi” dengan masa lalu, menjalani saat sekarang dan melihat ke masa depan. Memaafkan itu memerlukan energi yang lebih besar ketimbang membalaskan dendam, karena disitu kita dalam posisi sebagai eksekutor dalam arti apakah kita yang akan “memutuskan” rantai ini atau akan melanjutkannya dalam bentuk balas dendam yang mungkin membayar “kekalahan” kita dulu.

Jika kita memilih sebagai bentuk balas dendam, itu hanya memperpanjang efek domino atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya saja kita dalam sebuah hubungan dikecewakan, karena kita kecewa maka kekecewaan itu kita jadikan alasan untuk melakukan hal yang sama pada orang lain. Jika itu yang terjadi berarti kita “menempatkan diri kita” sama seperti orang yang telah mengecewakan kita dan itu hanya akan memicu efek yang berkelanjutan pada hidup orang lain. Mungkin dalam kalimat gampangnya bisa dibilang kita dikecewakan orang lain, dan kita balas ke orang lain, dan orang lain membalasnya ke orang lain dan seterusnya sampai kiamat =)

Jika kita memilih untuk memaafkan berarti kita telah berperan untuk menghentikan rotasi balas dendam, minimal dalam hidup kita dan semoga tidak terjadi pada orang lain, cukup kita. Memang itu terdengar terlalu muluk bagi sebagian orang, kita tidak berperan sebagai manusia yang suci alias tak punya dosa sama sekali dan selalu berada di sisi kebaikan, bagaimanapun kita sebagai manusia yang pastinya merasa sakit bila dikecewakan, namun apakah itu akan kita gunakan sebagai alasan untuk melakukan hal yang sama pada orang lain? Aku kira tidak ada seorangpun yang nyaman bila diposisikan sebagai “sasaran tembak” alias sebagai obyek balas dendam atas apa yang tidak mereka lakukan. Orang bolehsaja mengatakan semua itu kan sama, jadi itu wajar, namun bagaimana bila kamu yang diletakkan diposisi itu?

Memaafkan juga berarti mengenal diri kita, seperti halnya kita berteman dengan orang lain, jika suatu saat sahabat kita misalnya marah karena kita mengenal orangnya, maka kita dapat menyimpulkan mungkin karena ini atau itu dia marah dan dengan itu kita dapat mengintrospeksi diri kita dan kita akan melakukannya dengan sadar tanpa keterpaksaan, jika kita tidak kenal, apa yang akan kita katakan? Paling-paling “bodo amat, emangnya situ siapa kenal aja kaga..”

Memaafkan juga bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk perdamaian dengan masa lalu kita, banyak orang yang mengatakan saya baik-baik saja, namun mereka tidak pernah berdamai dengan diri mereka sendiri, berdamai dengan masa lalunya dan meletakkannya dalam penolakan, mereka yang seperti itu sebenarnya tidak pernah sampai kemanapun, ibarat orang main game jika level yang bawah tidak selesai sampai kapanpun kita main, kita tidak akan pernah sampai ke level diatasnya. Nah yang sekarang menjadi pertanyaan adalah telah sampai manakah kita? coba tanya diri kita masing-masing.

Monday, March 8, 2010

Alasan

Setiap orang memiliki alasan atas segala sesuatunya, untuk apapun itu, yang buruk ataupun yang baik. Alasan yang dibuat berdasarkan versi kita agar kita terlihat “benar”, alasan yang mungkin sebenarnya atau kita “membelokkannya” agar terlihat benar.

Alasan (dengan apapun bentuknya) seringkali digunakan sebagai “media penyelamat” bagi sebagian orang, walaupun mereka mungkin sadar bahwa karena alasan yang mereka buat bisa jadi menyeret orang lain ke penjara menggantikan dia.

Sekarang pertanyaannya adalah apakah semuanya perlu alasan? Apakah semua yang kita lakukan perlu sebuah alasan? Jawabannya mungkin ya, tapi juga mungkin tidak. Sesuatu yang bisa di urut berdasarkan logika pasti punya alasan dan yang melibatkan perasaan bisa jadi perlu alasan, bisa juga tidak. Contohnya jika seseorang bekerja, pasti dia punya alasan, apakah karena tanggungjawab pribadi, atau karena tujuannya adalah mendapatkan uang dan seterusnya dan seterusnya. Seseorang yang belajar pasti punya alasan, yaitu ingin bisa atau lebih paham.

Lalu bagaimana dengan hal-hal yang lebih menggunakan perasaan? Mungkin dalam beberapa poin kita tidak butuh alasan, misalnya saja ketika seseorang bertanya pada kita, kenapa kamu suka padanya? Bisa saja kita jawab karena fisik, karena dia orangnya begini dan seterusnya. Ok itu memang sebuah jawaban, tapi bagaimana jika kita menggunakan logika terbalik, jika seseorang mengatakan karena dia begini secara fisik, jika suatu saat dia tidak seperti yang sekarang kamu lihat berarti kamu akan “menyingkirkan” dia dari daftar kamu? Kita kamu mengatakan karena dia begini, bisa jadi jika suatu saat dia berubah (dan semua orang akan berubah, cepat atau lambat) maka kamu akan melemparnya ke tempat sampah.

Apakah alasan itu penting jika kita menyayangi seseorang? Lebih penting dari rasa sayang itu sendiri? Alasan seringkali membuat kita “buta” (bukan dalam arti kita salah karena merasa sayang pada orang lain) tapi seringkali itu menjadikan kita melihat segala sesuatunya hanya dari sisi kita saja, menolak sudut pandang yang lain, dan ujung-ujungnya kita menilai segala sesuatunya berdasarkan apa yang kita anggap benar.

Sekali lagi ini bukan perkara benar atau salah, ini tentang alasan yang kadang kita cari untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Jika kamu memang benar sayang, jangan dikarenakan kau memiliki alasan untuk menyayanginya…

Dulu salah satu temanku pernah bilang “cinta itu bukan karena.. tapi walaupun…” dan itu memang benar, aku sayang padamu bukan karena kau… tapi walaupun kau… aku akan tetap sayang padamu.

Tuesday, March 2, 2010

Kosong itu berisi

Ini bukanlah mengutip dari sebuah tayangan televisi, mengenai Perjalanan Ke Barat dalam kisah Kera Sakti, tapi ini lebih kepada bagaimana emosi mempengaruhi pikiran kita dalam memutuskan sesuatu.

Wilayah yang ideal bagi pikiran kita adalah di wilayah tengah. Sebab hanya diwilayah itulah pikiran (logika) dan perasaan mencapai titik keseimbangan.

Keputusan yang kita ambil itu adalah hasil dari logika dan perasaan, mungkin dalam matematika kita bisa tulis: logika + perasaan = keputusan, ini bisa jadi ekuivalen dengan: 50 + 50 = 100. Nah dengan nilai akhir yang 100 itu membuka beberapa kemungkinan bagi kita

Apakah kita akan memakai formula yang mana?
pertama: logika (70) + perasaan (30) = keputusan (100),
kedua: logika (30) + perasaan (70) = keputusan (100),
ketiga: logika (50) + perasaan (50) = keputusan (100),

Mari kita kaji sama-sama
Untuk rumus yang pertama, dapat kita lihat sisi logika yang lebih banyak berperan dibandingkan dengan sisi emosional dan menghasilkan keputusan. Memang benar keputusan akhir, namun pertanyaannya apakah itu hasil akhir yang ideal? Mungkin tidak. Seseorang yang menggunakan rumus yang pertama akan menghasilkan keputusan yang seperti robot, mau menangnya sendiri, mungkin berpeluang menjadi “batu” karena tetep kekeuh dengan apa yang dikatakannya karena logikanya mengatakan demikian dan seterusnya.

Rumus yang kedua adalah kebalikan dari rumus yang pertama, pada rumus ini individu lebih menggunakan perasaan dibandingkan logika. Mereka mungkin lebih mementingkan perasaan orang lain (dan perasaan ia juga) dalam memutuskan sesuatu. Mungkin bisa dibilang orang yang menggunakan tipe ini ngga tegaan, tapi mungkin juga malah jadi tegaan karena semua lebih dipengaruhi oleh emosinya yang meledak-ledak. Ini juga bukanlah suatu cara pengambilan keputusan yang baik, karena keputusan apapun yang kita ambil dalam kondisi emosional sebagian besar akan kita sesali pada akhirnya.

Rumus yang ketiga adalah keseimbangan dari sisi emosional dan logika dalam arti 50-50 (seimbang) dan apabila kita kurang antara emosi dan logika hasilnya adalah nol, dalam kondisi ini seorang individu mencapai keseimbangan antara kedua faktor itu. Ini yang sulit diterapkan dalam kehidupan sehari-hari karena kita secara sadar berusaha untuk mengurangi atau menambah proporsi apakah itu logika atau perasaan untuk mencapai keseimbangan.

Nah pertanyaan terakhir adalah yang mana cara yang paling baik dalam mengambil keputusan? Jawabannya mungkin tergantung pada kondisi, kita tidak dapat mengatakan harus menggunakan cara seperti ini, semua bergantung pada kondisi, ingat pada kondisi dan bukan pada individunya karena individu punya kecenderungan mengambil satu yang sesuai dengan keinginannya dan bukan pada kondisi yang ia hadapi.

Semuanya Kosong

Jika ada yang bertanya padamu apakah nilai dari sebuah benda, apa yang akan kamu katakan? Apakah benda itu akan bernilai positif atau sebaliknya negatif

Benda, apapun itu sebenarnya tidak memiliki nilai. Yang memberikan nilai itu adalah kita, apakah negatif atau positif itu sangat tergantung pada orang yang menggunakannya. Misalnya saja pensil, bagi sebagian besar orang pasti nilainya positif, tapi bagaimana jika suatu saat pensil itu dipakai untuk menikam seseorang? Pasti nilainya berubah menjadi negatif. Tali sepatu, mungkin nilainya positif, tapi bagaimana jika tali itu digunakan untuk mencekik seseorang?

Dalam hal ini kita bisa artikan bahwa penilaian itu sangatlah subyektif atau malah sangat obyektif, dalam arti sesuatu yang bernilai negatif mungkin saja bagi beberapa orang bernilai positif (dapat dibenarkan)

Kita sebagai subyek dan obyek mempunyai kemampuan untuk menilai dan memilih bagaimana sebuah benda digunakan yang pada akhirnya mempengaruhi pandangan orang mengenai apakah itu positif atau negatif, bukankah ada yang mengatakan “it’s all about the man behind the gun” bukan karena senjatanya, tapi bagaimana dia menggunakannya, sekarang bagaimana dengan kita?

Benteng

“sesuatu yang kuat dibuat untuk melindungi yang lebih rentan”

Dan memang benar seperti itu kenyataannya, misalnya dalam biologi bukankah tengkorak yang kuat diciptakan untuk melindungi otak yang rentan? Bukankah rangka diciptakan untuk melindungi bagian internal tubuh yang lebih rentan?

Benteng, diciptakan untuk menahan serangan dari luar yang berpotensi menghancurkan. Nah kita juga secara langsung, maupun tidak langsung juga menciptakan benteng kita sendiri untuk melindungi diri kita dari ancaman atau apapun yang kita kategorikan sebagai ancaman.

Mungkin yang penting bukan mengenai bentengnya, tapi mengenai apa yang kita kategorikan sebagai ancaman karena setiap orang secara otomatis akan merespon atas apapun yang dikategorikan sebagai ancaman. Berhubungan dengan kata ancaman, banyak dari kita merasa terancam, atau minimal merasa tidak aman. Yang punya uang banyak takut akan kena rampok, yang punya pacar takut ditinggalkan, yang percaya takut di khianati, yang emang maling takut ketahuan, yang takut cacing takut kalau ditakutin pake cacing dan seterusnya.

Rasa takut (ancaman) itu yang pada akhirnya menyebabkan kita merespon sesuatu kadang lebih dari yang seharusnya, dalam arti kadang jika kita bersikap menyerang jika kita merasa lemah, banyak orang yang menyombongkan diri untuk menutupi kekurangan dirinya, agar orang tidak melihat kekurangannya dan berfokus pada apa yang ia tampilkan. Kadang kita merasa marah karena kita tak tahu lagi apa yang mesti kita lakukan, semuanya sudah kita coba dan ngga berhasil dan semua itu membuat kita marah. Kadang kita menangis bukan karena sedih tapi karena kita tak tahu apa lagi yang dapat kita perbuat agar dia mengerti, dan itu membuktikan bahwa apa yang kita lihat dan kita rasakan mungkin bukan yang sebenarnya.

Cobalah untuk melihat lebih dekat, bukan apa yang tampak, bukan apa yang kita rasakan, tapi cobalah melihat apa dan bukan bagaimana, karena selamanya “benteng” itu akan disana, dan tergantung kamu memposisikan diri apakah sebagai lawan atau sebagai kawan.

Tuesday, February 16, 2010

Semua Adalah Proses

Ini adalah kalimat klise yang mungkin kita dengar ratusan kali, bahwa semua butuh proses, dari pelajar, karyawan, orang muda sampai kakek-kakek pasti pernah dengar kalimat itu

Memang semua butuh proses, tidak ada hal di dunia ini yang muncul sekejap mata, semua butuh proses yang tak mudah, kamu pernah lihat behind the scene pembuatan film? Sebuah adegan yang durasinya 2 jam butuh berbulan-bulan take dan puluhan jam buat mengeditnya.

Kita sering melihat pada hasil akhirnya, bukan pada prosesnya dan inilah yang membuat kita “tumpul”, kenapa? Karena sebagian besar orang melihat dari hasil akhirnya, apakah sesuai dengan kriteria atau tidak. Jika sesuai berarti bagus jika tidak, berarti harus masuk ke bak sampah. Apakah sesederhana itu?

Jika kita berbicara tentang produk mungkin iya, tapi bila kita berbicara tentang hidup, aku kira jawabannya amat jelas: tidak. Hidup bukan hanya mengenai apa yang kamu dapatkan pada esok tapi lebih apa yang kamu pahami untuk esok. Tidak ada orang yang tiba-tiba muncul sebagai ahli fisika tanpa proses belajar, dan belajar itu bukan dalam hitungan jam, bulan bahkan mungkin tahunan agar dia benar-benar bisa dan layak mendapatkan gelar ahli

Pernah masak mi instan? Pastinya pernah kan... mi instan saja yang dari judulnya instan, tidak sertamerta begitu kita buka bungkusnya kita dapat memakannya (kecuali mungkin lagi kepepet, maka kita akan makan begitu saja) semua butuh proses.

Jika kita hanya meliha hasil akhir saja, berarti kita melupakan proses yang penting bagi terciptanya hasil akhir itu sendiri, bukankah tanpa proses kita tidak akan pernah mendapatkan hasil akhir itu?

Terimakasih

Sebuah kata yang mungkin amat sering kita dengar dan kita ucapkan. Terimakasih hanyalah sebuah kata, namun berarti banyak.

Banyak orang berterimakasih hanya sebatas ucapan di bibir saja, sekadar “penghargaan” atas bantuan yang diberikan seseorang terhadap kita, dan itu menjadikan kata yang seharusnya bermakna lebih menjadi “berkurang” maknanya.

Dulu saya pernah membaca sebuah cerpen kalau tidak salah di majalah Bobo, disitu diceritakan bahwa ada seorang anak yang suka menolong, namun setiapkali orang yang ditolong mengucapkan terimakasih, ia berkata “jangan berterimakasih kepada saya, tapi berterimakasihlah kepada Tuhan”, dan memang benar seharusnya kita lebih berterimakasih kepada Tuhan karena Dia memperkenankan seseorang menolong kita.

Berterimakasih dapat dikatakan sebagai “pengakuan” kita atas segala kekurangan kita, tidak ada manusia yang sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itulah yang “mewajibkan” kita untuk saling tolong menolong dan saling melengkapi.

Nah pertanyaannya sekarang adalah seberapa sering kita berterimakasih kepada Tuhan atas segala karunia yang Ia berikan pada kita? Kita seringkali lebih suka berterimakasih pada orang lain dan menempatkan Tuhan dalam urutan ke 300 dari terimakasih kita, bukankah bila Tuhan tak berkehendak semua ini takkan terjadi?

Friday, February 12, 2010

You Can’t Buy A Heart

Apa yang mungkin banyak orang pikirkan saat Valentine? Jawabannya mungkin adalah hadiah

Hadiah? Mungkin itu tujuan banyak orang, apa yang mereka dapatkan, apa yang mereka beri. Tapi apakah itu saja? Aku rasa tidak

Banyak orang yang berbicara tentang apa yang kita dapatkan, tapi hanya sedikit orang yang berbicara tentang hati. Jika kamu dapat, kamu bisa membeli semua yang kamu inginkan, tapi kamu takkan pernah bisa membeli hati yang sayang kepadamu

10 Februari 2010

Sebuah kartu ungu di perbatasan sang waktu
Untukmu
Untuk sepenggal kisah, percaya dan ragu
Untuk rotasi dan pertemuan itu

Sebuah kartu ungu di depan pintu
Menunggu dalam hening untukmu
Untuk seucap kata, doa juga rindu
Untuk segala yang membuat kita satu
Untuk alasan dan pembenaran mengapa ku mencintaimu

Sebuah kartu, ungu
Untukmu, sore itu
Saat gerimis kembali dan perih mencapai nadi
Saat tiada kita, tak ada kau, hanya ku sendiri
Hanya ku, tanpamu, sepi

Sebuah kartu ungu
Untukmu
Pada 14 Februari
Saat pertentangan bertemu dalam badai
Saat rasa meluap dan tenggelamkanku disini

...
Aku mencintaimu
Tidak karena, kau...
Tidak pula karenaku...
Tapi karena ku percaya kau yang terbaik bagiku...

Tuesday, February 9, 2010

Diamlah Untuk Sesaat

Kita yang hidup di jaman yang bisa dibilang modern sekarang ini sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan namanya konektifitas, kemanapun kita pergi kita dapat menjumpai orang-orang yang menggunakan hp, siaran TV 24 jam full, internet dengan segala fasilitas dan rupanya yang mendorong orang-orang terus “terjaga” dan lain sebagainya. Nah dengan keadaan seperti itu adakah waktu bagi diri kita sendiri? Waktu untuk “menemui” diri kita sendiri?

Dengan beragamnya informasi yang kita dapatkan menjadikan kita “tidak mempunyai waktu” untuk mengenal siapa diri kita. Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian? Mungkin itu 2 tahun lalu atau mungkin lebih lama lagi.

Dalam kehidupan modern ini kita sudah terkontaminasi dengan segala “keriuhan” dan melupakan yang semestinya penting bagi kita, yaitu diri kita sendiri, masihkah kita menggangap diri kita manusia bila kita sendiri tidak punya waktu untuk diri kita?

Memang tuntutan saat ini mengharuskan kita begitu, jika kita tidak mengikutinya sama saja dengan ketinggalan jaman, namun haruskah 24 jam kita habiskan dan tidak menyisakan 10 menit saja untuk berbicara dan membiarkan diri kita sendiri? Apakah adil untuk dirimu sebagian besar waktumu dihabiskan untuk mereka (teman, pekerjaan, gosip, dst...) dan kamu tidak memberikan waktu sedikit saja untuk dirimu lepas dari semua itu...

What You Don’t Know Aint Hurt You

Itu yang kadang kita dengar, apa yang tak kamu ketahui takkan melukaimu. Atau malah sebaliknya kamu takut terluka jadi lebih baik jika berpura-pura tidak tahu dan menganggap semua berjalan baik-baik saja.

Seringkali orang dengan sadar membiarkan dirinya “dibohongi” karena dia tak ingin melihat kenyataan yang terjadi seperti itu, mereka lebih memilih membiarkan semua itu berjalan dengan salah karena mereka takut akan rasa sakitnya, bukankah rasa sakit itu menggugah kesadaran? Jika kita beranggapan semua baik-baik saja sama saja membiarkan diri kita jatuh lebih dalam dan lebih dalam lagi. Jika kamu sakit dalam stadium awal pasti pengobatannya sederhana dan cepat, namun jika kamu beranggapan semua OK padahal kamu tahu kenyataannya itu berbeda, sama saja membiarkan dirimu sakit tanpa mendapatkan pengobatan, dan ketika kamu sadar mungkin kamu akan terkejut berapa banyak bagian dari dirimu yang telah hilang

Tidak semua orang punya keberanian untuk menghadapi kenyataannya dengan sadar, memang kesadaran itu menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi bila kamu tak melakukan yang dapat kamu lakukan (dan lebih baik tentusaja) karena takut menghadapi kenyataan.

Berarti pilihan kita hanya tersisa 2, yaitu: (1) hadapi apa yang terjadi dengan sadar, dalam arti kita menyiapkan diri dengan segala kemungkinannya atau (2) hadapi saja dan pura-pura semua baik-baik saja. Kamu akan pilih yang mana? It’s up to you, you have the reason and you are the one that will run it

13 Agustus 2009

Selesai sudah kita
Usai sudah sebuah cerita
Aku, kau, juga kita
Tak ada jika
Tak ada lagi bila
Ini adalah titik, tak lagi koma

Maafkan aku untuk semua
Tuk disisimu saat senja
Bersamamu dalam parade dan airmata
Dalam pasang, pertentangan juga tawa

Maafkan aku tuk semua
Tuk semua yang pernah ku kata
Tuk semua yang membuatmu kecewa
Tuk semua yang tak kita lalui bersama

Maafkan aku karena tak pernah jadi yang terbaik bagimu
Tak pernah dapat berikanmu sekeping hati , hanya pecahan ini
Tak pernah dapat berikanmu arti, hanya seruang sepi
Juga tolong maafkan aku untuk semua yang tak dapat ku penuhi

Dan disinilah kita
Diam dalam ragu dan tanya
Sunyi dalam kelu, tak berkata
Karam dan tak kuasa meminta

Ku tak ingin menatap matamu yang berkaca
Ku benci memelukmu dan tinggalkan kegalauan diujung sana

Kau adalah kekasihku
Dan akan tetap jadi kekasihku sampai kapanpun jua

Ini adalah rinduku
Untukmu dan kan tetap untukmu selamanya

Dan jika ku boleh berkata
Terimakasih kau telah berikan ruangmu untukku
Berikan langitmu yang biru
Penuhi imagiku dengan udaramu
Lengkapiku dengan gelombangmu
Dengan badaimu, dengan gerimismu
Juga dengan rotasimu

Terimakasih untuk pecahkanku
Untuk retakkanku, untuk lukaiku
Untuk sayangimu dengan sepenuh hatiku
Juga untuk semua yang takkan terganti dalam seputaran sang waktu

Aku mencintaimu, dan hanya itu
Tidak karenamu, tidak pula karenaku
Ku tak perlu alasan mengapa aku
Untukmu, cukuplah bagiku


++ Terimakasih kau telah lukaiku dan membuatku mengerti bahwa ku memang sayang padamu

Jangan Bertanya Kenapa?...

Kadang kita lebih baik tidak bertanya kenapa, lebih baik kita jalani saja..

Kenapa seperti itu? Mungkin jawabannya adalah ketika kita bertanya kenapa, yang kita inginkan adalah jawaban dari pertanyaan kita, nah selanjutnya baru kita menilai apakah jawabannya seperti yang kita inginkan atau tidak. Jika kita bertanya kenapa? Mungkin berarti kita sendiri tak yakin, hingga kita bertanya agar kita mendapatkan “pembenaran” atas apa yang kita akan lakukan

Dalam hubungan antar personal, sering kita bertanya kenapa? Bukankah jawaban kenapa itu terletak di bibir saja? Kita juga tak tahu jawaban yang ia katakan itu sejujurnya atau entahlah, itu hanya Tuhan yang tahu..
Apakah rasa sayang itu perlu karena..., perlu alasan karena kamu..., aku rasa tidak – bukankah perasaan itu tak bersyarat? Ibaratnya jika kamu amat sayang dengan seseorang dan suatu saat dia melukaimu (tahu maksudnya kan...) apakah itu dengan serta merta akan memutus rasa sayang yang kamu rasakan padanya? Mungkin tidak.

Kadang kita bertanya kenapa ini terjadi sekarang, kenapa aku bukan dia, kenapa harus dia? Dan seterusnya, mungkin kita takkan pernah mendapatkan jawabannya karena mungkin yang sebenarnya itu bukan yang kita perlukan.

Jika kamu yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perencana bagi mahluknya, pasti Dia akan memberikan jalan yang lebih baik dari saat ini, jadi berikan yang terbaik darimu kemanapun jalan ini menuju..

Gravitasi

Kembali ke gravitasi yang mau tidak mau berkaitan dengan fisika, namun yang kita bahas sekarang bukanlah hal-hal yang berkaitan dengan fisika, namun tentang kehidupan.

Aku pernah membaca sebuah karya dari Khalil Gibran, dimana Ia mengatakan bahwa burung yang terbang diangkasa bayangannya tetap berada di bawah, setinggi apapun dia terbang bayangannya tidak akan mengikuti dia ke angkasa, ia akan tetap berada dibawah

Apa yang bisa kita petik dari cerita itu sebenarnya adalah sebuah usaha untuk mensyukuri apa yang kita punya sekarang, dalam arti semuanya. Coba lihatlah ke bawah sedikit saja dan kamu akan merasa sangat-sangat beruntung ada di titik dimana kamu berdiri sekarang, jika kamu melihat keatas seperti halnya burung tadi, angkasa tak berbatas dan kamu takkan pernah merasa cukup dan takkan merasa apa yang kamu dapatkan sekarang tak berarti apa-apa

Harapan itu perlu, namun jangan sampai itu mengalahkan rasa syukur kita atas apa-apa yang kita punya sekarang, bukankah Tuhan senang bila hambanya bersyukur kepada ya, dan bukankah itu kewajiban kita sebagai mahluk ciptaan Nya?

24 Ocktober 2009

I like your smile
It remember me to the ocean
I like you cheer
It remember me to blue sky
I like your laugh
It fills my night with thousand stars
I like your simplicity
Like there’s no yesterday, there’s no tomorrow, just today and this moment
I like the way you look at me
The way, you look, at me
I love look in your eyes
Where i can find you and find me there too
I love your whisper
There’s a silence, there’s a space then i have no word to say
I love the way you hold my hand
Make me believe that i’m not all alone
I still have you in my heart

But i hate when you make me cry
When you say no word at all
When you play with my heart
When you act like you don’t know me at all

However it aint matter after all
After what we’ve been through
There’s nothing could change what i feel
And there’s no word could tell what i feel
There’s no word
Except
I love you



++ Dedicated To Helen Simon ++
++ Happy Birthday – i hope you go much wiser day after day ++

Kita Hanya Punya Sekarang

Mungkin ini berkaitan dengan konsep waktu (mungkin…). Apakah kita memiliki seluruh waktu? Tentusaja jawabannya tidak, waktu berjalan dalam garis yang lurus dan apa yang telah lewat dari kemarin berarti ia tidak akan pernah kembali lagi alias akan hilang selamanya, yang esok juga belum milik kita karena ia “tak ada” ia ada saat esok, dan esok itu adalah sekarang.

Bingung? Waktu yang kita punya adalah saat dimana kamu ada, disaat itu adalah waktu kita, sebelum dan sesudahnya itu bukan karena waktu itu “tak ada”. Makanya tidak salah kutipan dari Al-Quran yang mengatakan “demi waktu, manusia itu sebenarnya merugi…” kenapa merugi? Karena kita melewatkan begitu saja waktu kita yang berharga dan waktu yang telah lewat tidak akan kembali lagi.

Kadang kita merasa waktu berjalan dengan cepat, misalnya saja saat kita sekolah, perasaan kemarin baru kelas I sekarang tiba-tiba kamu sadar sudah mau lulus, nah jika itu yang terjadi berarti Cuma ada dua kemungkinan. Pertama: kamu selama tiga tahun itu tak sadar, kedua: kamu sadar tapi melewatkan tiga tahun itu, kemana? Coba tanya sendiri…

Aksi Dan Reaksi

Kembali lagi ke fisika, yang mungkin tidak banyak orang yang menganggapnya sebagai pelajaran atau materi yang menarik, tapi mungkin banyak hal dalam fisika yang mungkin berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari, jika tidak dalam hitungan atau dalam prinsip

Aksi dan reaksi, ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, dimana kita akan memberikan reaksi atas sebuah aksi terhadap kita, dan reaksi setiap orang akan beragam, tidak ada orang yang bereaksi sama terhadap sebuah aksi.

Kadang kita hanya melihat dari sisi sebuah reaksi dan tidak pada sisi aksinya, artinya jangan lihat reaksi orang lain ketika kita melakukan satu hal, tapi coba lihat apa yang kita lakukan sehingga orang lain bereaksi seperti itu terhadap kita.

Cobalah melihat dari sisi orang lain sehingga kamu paham mengapa mereka akhirnya bersikap begitu, mungkin dalam skala normal mereka tidak ingin bersikap begitu kepada kamu, namun mungkin mereka tidak punya pilihan lain, jadi dengan amat sangat terpaksa mereka lakukan juga

Ibaratnya seekor binatang buruan yang sudah terpojok, dia tidak punya pilihan lain karena dia sadar bahwa bahaya telah datang, mungkin ia akan lari pertama kali tapi suatu saat ia akan melawan karena memang tidak ada pilihan lain, berhasil atau tidak itu adalah cerita lain.

Kosong Sama Kosong

Bagi mereka yang fans sama Slank, pasti tahu lagu yang satu itu. Kosong sama kosong – tentang sebuah kekosongan yang mungkin tak terganti dengan apapun, dan setiap orang punya ruang itu, mereka sadar atau tidak.

Setiap manusia itu pasti tidak sempurna, itu adalah kenyataan dan karena itulah kita berusaha menutup ruang kosong yang ada, Cuma kadang beberapa dari kita lebih memilih menutup mata dan mencari pelarian dimana kosong itu tidak terasa.

Hidup ini tak sempurna, dan memang tak sempurna, hidup ini tak adil dan memang begitu kenyataannya, maka tak salah kalau agama mengatakan nanti kita akan bertemu dengan hari akhir dimana kita akan mendapatkan apa yang kita “pupuk” di dunia, apakah itu baik atau buruk.

Cobalah lihat ke dalam dirimu, lihat bukan apa yang kamu inginkan tapi apa yang telah kamu dapatkan, lihatlah betapa banyak hal yang mestinya bisa kita syukuri tapi ternyata kita sia-siakan, kita seringkali mengejar apa yang tidak kita dapatkan sekarang namun melewatkan yang kita punya sekarang, lihatlah ke dalam dirimu, betapa sebenarnya kamu diberkahi dengan banyak, sangat banyak pemberian dan anugrah dari Yang Maha Kuasa

Coba lihat tidak pada dirimu saja tapi coba lihat pada orang lain, mungkin mereka beratus-ratus kali lebih baik dari apa yang kamu punya, tapi apakah mereka merasa lebih beruntung dari kamu? Mungkin tidak, bahkan mungkin mereka tidak sampai ke poin yang sekarang kau raih..

Kamu takkan dapat mengisi seruang itu jika kamu tak tahu apa dan bagaimana dirimu yang sesungguhnya, dan disitulah pendewasaan diri bermula, jadi sekarang kamu ada diposisi mana? Coba tanya dirimu sendiri

Kesempatan Kedua

Setiap orang berhak buat dapat kesempatan kedua, dalam arti apapun itu. Dengan kata lain setiap orang memang berhak untuk merevisi apa saja yang salah dari apa yang telah mereka lakukan di masa lalu.

Bukan dalam arti sebuah pembenaran bahwa setiap kesalahan akan dimaafkan begitu kita merevisinya, bukan pula dalam artian kita menyiapkan diri untuk disakiti untuk yang kedua kali dan seterusnya, masalah ini akan berjalan atau tidak itu adalah masalah yang lain.

Kadang kita terlalu keras bahkan untuk diri kita sendiri, kadang kita memaksa diri kita terlalu keras sampai ke batas yang tidak realistis lagi, dan memang setiap orang membuat kesalahan. Dan karena kesalahan itu pula membuat kita berpikir dan mereview apasaja yang telah kita lewati, apa saja yang telah kita lakukan dan seterusnya.

Kesalah juga membuat kita sadar bahwa memang tak ada yang sempurna dan itu pula yang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk membuka kesempatan kedua, untuk memperbaiki apa saja yang kita tinggalkan dulu dan tak sempat kita selesaikan

Kita memang tak meminta seperti ini, tapi bukankah hidup ini serba tak pasti? Tak ada yang bisa menggaransi semua ini akan baik-baik saja sebelum semuanya terjadi, sedangkan kita juga tak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir… happy ending? Tentusaja itu harapan semua orang dan semoga saja demikian =)

Januari 22/11:30AM – Januari 23/07:59 AM

Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari yang kau beri
Lebih dari yang terlintas saat sepi

Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari apa yang kuucap nanti
Lebih dari yang ku pinta pada matahari

Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari yang ku rasa di hati
Dan yang ku harap tuk esok pagi

Aku sayang padamu
Itu saja
Tanpa jika
Tanpa karena
Tanpa alasan
Apapun, kita atau apapun jua

Adakah ku meminta lebih dari ini?
Karenaku? Hanya karena ku…
Atau karenamu, hanya karenamu…

Aku tak meminta apapun
Tak apapun

Aku rindu padamu
Aku rindu hujan yang dulu
Gerimismu, lautmu
Gelombangmu yang biru

Aku rindu, amat rindu padamu

Adakah ku minta lebih darimu?
Lebih dari yang kau beri
Lebih dari ruang yang kau isi?
Lebih dari yang ku ucap dalam doa untuk nanti

Apakah itu terlalu banyak bagimu?...



++ Dedicated To Helen Simon ++

Cobalah Melihat Kebawah

Khalil Gibran pernah menuliskan dalam salah satu karyanya bahwa burung yang terbang diangkasa pun bayangannya akan tetap berada di bawah.

Dan memang seharusnya kita juga berbuat seperti itu, setinggi apapun pencapaian kita sekarang sepantasnya kita juga melihat kebawah, dengan melihat kebawah kita akan merasa lebih bersyukur atas apa yang kita raih, dan seberapa beruntung kita bila dibandingkan dengan mereka yang lain

Melihat ke atas berarti kita hanya melihat apa yang tidak kita punya sekarang, dan bukan pada apa yang kita punya sekarang, kita lebih suka menghitung dan menilai sesuatu dari apa yang bisa kita hitung, yang bisa kita rating dan seterus dan seterusnya.

Sebenarnya tidak salah sih melihat keatas, karena dengan itu kita bisa berharap, kita bisa bermimpi dan berusaha menjadikannya sebuah kenyataan karena langit itu tak berbatas (ingat ada pepatah yang mengatakan bahwa diatas langit ada langit lagi...) – (namun di langit yang luas itu tidak ada tempat untuk kesalahan), sekali-kali lihatlah kebawah jadi kamu tahu setinggi apa kamu telah terbang...

Melihat kebawah juga berarti kamu menghargai hidup yang tidak sempurna ini, jika kamu melihat diri kamu sampai di titik ini, kamu akan merasa sebagai satu dari sedikit orang yang diberikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk sampai di sini, sebagai orang yang dipilih untuk sampai di titik ini. Jika kita lihat dari sisi siapa yang berhak, mungkin aku atau kamu bukan orang yang berhak mendapatkan semua itu, banyak orang yang jauh lebih baik dari kita dan jika Tuhan menggunakan kriteria itu, niscaya kita akan tersingkir dari nominasi.

Dan jika kamu sampai disisi ini sekarang itu adalah sebuah karunia dari Yang Diatas, maka belajarlah untuk bersyukur, belajarlah untuk menjadi lebih baik dan seterus-seterusnya karena mungkin kesempatan yang kita punya hanya sekali dan bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bersyukur atas karunia yang ia dapatkan?

Kehilangan

Setiap pertemuan adalah sebuah perpisahan, dia seperti dua sisi mata uang yang saling terikat dan tak dapat dipisahkan, dan apa yang membuat uang itu berharga? Karena dia punya dua sisi, jika uang itu hanya punya satu sisi saja, maka ia takkan berharga

Jika kau ingin menghargai sebuah pertemuan maka rasakanlah perpisahan, maka kau akan tahu bagaimana berartinya sebuah pertemuan. Seringkali kita menyesal melewatkan waktu di saat kita bisa, disaat semuanya mungkin dan lain sebagainya, seringkali kita tidak peduli dengan apa yang kita punya, kita mencari apa yang tidak kita capai dan meninggalkan apa yang kita dapat sekarang hingga suatu saat kita sampai pada satu titik dan bertanya kenapa aku sia-siakan sesuatu yang aku punya demi yang lain yang bahkan aku tak kenal.

Semua orang akan mencapai poin itu cepat atau lambat, kau mungkin sekarang berkata tidak, tapi tunggulah beberapa tahun lagi, kau akan sampai ke titik ini sadar atau tidak, dan saat itu datang semua telah terlambat. Memang menyakitkan kehilangan seseorang yang pernah kita kenal, orang yang pernah dekat berubah menjadi orang lain dan jatuh dalam hitungan hari, menyakitkan melihat orang yang kita sayang menjadi orang lain dan kita tak dapat melakukan apapun untuk “menyelamatkannya”

Bukankah kehilangan itu mendewasakan? Menyadarkan kita bahwa dunia ini memang tidak sempurna, menyadarkan kita bahwa semua takkan ada yang abadi dan diatas semuanya masih ada Tuhan, walaupun kadang kita berpikir “Tuhan mempermainkan hidup kita” , yah… itu adalah rencana Tuhan, yang bisa kita lakukan adalah berikan yang terbaik yang kita bisa, minimal Tuhan tahu kita telah mencoba...

Outside Is Just The Skin

Ini sebenarnya terlintas secara tidak sengaja saat disebuah acara TV hostnya menanyakan mengapa anda memilih dia, dan orang yang ditanya menjawab yang secara tidak langsung mengatakan bahwa saya memilih dia karena dia terlihat bla, bla dan bla. Sebuah jawaban yang jujur dalam arti mungkin mewakili banyak orang yang dalam memilih sesuatu lebih melihat dari luar.

Memang tidak salah sih bila kita melihat seseorang berdasarkan outsidenya, outside berlaku bila kita belum mengenal siapa dia sebenarnya. Namun bila kamu telah menjadi hubungan dalam skala apapun selama beberapa waktu, maka outside itu bisa saja bergeser dari posisi 1 menjadi posisi 200 misalnya

Apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan? Apakah secara fisik saja? Apakah secara materi? Atau apa?... memang semua itu perlu, namun apakah itu semua bisa menggantikan how he or she treat you? Apakah itu semua bisa menggantikan arti dari kehadiran seseorang? Aku rasa tidak...

Wednesday, February 3, 2010

Status?

Status? Apa yang ada dalam benak kita, mungkin yang punya FB alias facebook bakal nyambungnya kesitu atau yang lagi jomblo bakal mikir ke hubungan dengan seseorang. Status disini tidak berhubungan dengan itu semua, ini berkaitan dengan seberapa kita peduli dengan orang lain

Maksudnya adalah seringkali kita peduli dengn orang lain dikarenakan kita punya hubungan dengan mereka, atau dengan kata lain karena dia pacar kita, teman dekat kita, saudara kita dan lain dan lain sebagainya. Jika hubungan itu selesai maka selesai pula perhatian kita dan titik, tak ada lagi selain itu.

Alangkah ironisnya bila kita memakai standar yang seperti itu, apakah orang peduli dengn orang lain dikarenakan status? Jika sekarang seseorang dihargai karena dia adalah seorang bos, lalu siapa yang peduli ketika dia tidak berstatus bos lagi? Jika anda dihargai karena orang-orang merasa anda penting, pastinya anda akan ditinggalkan ketika anda tidak menjadi siapa-siapa

Setiap tindakan pasti punya alasan, tidak ada orang yang waras kemudian melakukan sebuah tindakan yang tidak beralasan, dalam hal ini jika kita peduli dengan seseorang kita perlu sebuah trigger sebagai “alasan” kita untuk melakukan itu. Jika kita sayang dengan seseorang maka kita peduli, namun jika kita sekarang berpisah, setidaknya itu tidak memutus rasa peduli yang pernah kita rasa kepadanya, bukankah jika orang yang kita sayang menjadi seseorang yang lebih baik dari sekarang kita juga turut senang? Jangan beralasan karena kita putus lalu kita bersikap cuek dan sebodo amat dengan dia apalagi bila semua tidak berakhir dengan baik (jika kita memang benar sayang padanya)

Dalam hitungan apapun kita turut “bertanggung jawab” dengan dia, bukan dalam arti mengatur dan mengekang, namun sebagai pihak yang peduli, karena bagaimanapun jika ia menjadi lebih buruk maka yang merasa sedih adalah kita dan bukan orang lain.

Kelembaman

Jika kita dulu belajar fisika pasti kita kenal dengan istilah kelembaman. Yah contoh singkatnya seperti benda yang bergerak akan punya kecenderungan terus bergerak dan benda yang diam akan punya kecenderungan diam.

Dalam hidup kelembaman juga berlaku, seringkali kita berat memulai sesuatu yang sebenarnya kita sadar itu adalah sebuah langkah yang baik bagi kita, kita terbiasa dengan kondisi dimana kita nyaman walaupu kita sadar mungkin itu akan berdampak buruk bagi kita

Kita membiasakan diri menutup hati karena hati akan mengatakan sebuah kebenaran dan kebenaran itu menyakitkan, maka kita dengan sadar berusaha membungkamnya agar kita tidak mendengarnya. Kita lebih suka berlari dan berlari dan berlari dari kenyataan karena kita takut menghadapinya, itu menjadikan kita tak lebih baik dari kemarin. Dalam skala apapun memulai sesuatu yang baik itu berat, tak ada yang bisa menjamin semua akan baik-baik saja (kecuali Tuhan tentunya..)

Kita seringkali tak ubahnya seperti balok kayu yang bergerak ketika ada dorongan, mungkin itu bukan yang penting, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa sedikit lebih baik dari kemarin, tak banyak, hanya sedikit saja, karena bila tidak kita yang akan merugi, kenapa? Karena waktu berjalan maju dan ini adalah jalan satu arah yang tidak mungkin kamu berputar untuk menyelesaikan apa-apa saja yang tertinggal. Jika itu terjadi bukankah kita akan menjadi orang-orang yang merugi?...

Wednesday, January 27, 2010

SIAPKAH KITA?

Mungkin ini yang menjadi pertanyaan setiap orang ketika ia akan menghadapi sesuatu hal, siapkah saya?. Seringkali kita tidak merasa siap walaupun kita telah berusaha dengan sebaik-baiknya, karena kita takut gagal, maka kita membuat persiapan yang sebaik-baiknya agar peluang kegagalannya semakin kecil.


Namun, bukankah kita takkan pernah benar-benar siap?, kita tidak bisa berkata “saya siap” sebelum menghadapi hari H-nya. Kita baru bisa menilai apakah diri kita siap atau tidak setelah kita mengalami kejadian itu dan bukan sebelumnya.


Kita takkan pernah siap dengan pertemuan, kehilangan, dan semua yang terjadi dalam kehidupan kita dan bukankah itu yang membuat kita berusaha memberikan yang terbaik? Kita berusaha memberikan yang terbaik karena kita takut akan kegagalan, walaupun kita sendiri sadar mungkin kita takkan sampai pada titik itu, yah… titik dimana kita bisa menjawab semua pertanyaan dan keraguan yang ada dalam kehidupan kita, mungkin memang kita bukan orang yang terbaik, ada yang mungkin beratus kali lebih baik dari kita.
Mungkin kalimat yang terbaik bukanlah siapkah saya, tapi bisakah saya memberikan yang terbaik untuk mereka dan diri kita sendiri, dan siapa yang bisa menjawabnya? Hanya kita…

Thursday, January 7, 2010

Kesadaran itu menyakitkan

Memang kesadaran itu menyakitkan, maka orang-orang yang akan menjalani operasi harus di bius dulu =)


Kesadaran dalam bentuk apapun itu memang menyakitkan, kesadaran itu seperti pisau yang merobek tameng yang selalu kita gunakan untuk berlindung. Banyak dari kita yang menyadari sesuatu yang tidak benar dan membiarkannya hanya karena kita tak ingin menyadari kenyataannya seperti itu, atau bahkan lebih buruk.


Kita lebih suka hidup dengan kebohongan-kebohongan yang kita sendiri tahu itu terjadi, kita tak ingin mengubahnya dan membiarkannya berulang dan berulang lagi.


Kesadaran itu menyakitkan, namun itu juga membuka mata kita bahwa hidup ini tak sempurna, kita juga tidak sempurna. Jika kita menyadari diri kita tidak sempurna maka kita akan mencari jalan untuk memperbaikinya, namun jika kita bersikap sebaliknya, kapan kita akan coba melihat apa yang ada dan tidak ada dalam diri kita? Jika kita sakit dan merasa itu sakit maka kita akan bergerak untuk mencari obatnya, atau minimal mencari cara agar sakitnya tidak begitu terasa, dan itu bukan dengan cara “melegalkan” kebohongan-kebohongan agar diri kita merasa sedikit lebih baik.


Karena itu menyakitkan dan mungkin amat sakit, maka tak semua orang punya keberanian untuk menghadapinya, tapi bukankah semua obat yang menyembuhkan itu terasa pahit?

Masihkah Agama Penting Bagi Kita?

Masih pentingkah agama penting bagi kita? Mungkin untuk sebagian orang itu bukan pertanyaan yang penting, bukan pertanyaan yang penting atau mungkin kita tidak menggapnya penting untuk kita? Mungkin


Seringkali kita melihat agama menjadi media pembenar sebuah tindakan yang memang salah, agama hanya menjadi stempel bahwa kita orang yang “lurus”, lurus kemana? Ke surga atau malah lurus ke neraka?
Agama seringkali dimaknai tak lebih dari sebuah ritual atau malah sebuah doktrin yang harus kita ikuti karena memang dari sononya begitu. Banyak dari kita yang mengaku beragama tapi tidak paham dengan ajaran agamanya sendiri, kita hanya mengikuti agama sebagai sebuah ritual yang mesti begini, begitu, masuk tempat ibadah sebagai “malaikat” dan keluar dari sana kembali menjadi setan dalam arti sebenarnya.


Agama seharusnya dianggap sebagai kebutuhan bagi manusia, agama tidak butuh kita, tapi kita butuh agama untuk mengarahkan kita menjadi seseorang yang sedikit lebih baik dari kemarin-kemarin. Agama bukanlah sebatas ritual yang harus kita ikuti, namun lebih kepada panggilan jiwa bahwa memang ada Tuhan diatas sana dan kita sebagai mahluk yang diciptakannya wajib menyembah kepadanya, jadi bersyukurlah orang-orang yang mengikuti agama karena hatinya terpanggil dan bukan karena lingkungan, orangtua, teman dan lain sebagainya


Beruntunglah orang-orang yang melihat agama sebagai kebutuhan hidup, sepertihalnya mereka makan dan minum, memang seharusnya kita begitu, jika kita makan maka kita akan mencari makanan yang lebih enak lagi, begitupun dengan agama, jika kita bisa lebih baik di bandingkan dengan kemarin, maka kita seharusnya ingin makin lebih baik lagi esok.


Agama tidak butuh kita, tapi kita butuh agama, walaupun kadang kita merasa agama membebani kita, semua itu dikarenakan Tuhan ingin menjadi kita seseorang yang lebih baik, Cuma kadang kita terlalu egois untuk mendengarkan Nya.

Wednesday, January 6, 2010

Januari 07 2010

Kadang perih itu terasa, sangat
kehilangan itu tak jua lepas
kosong itu masih ada, lekat
kadang harapan karamkanku, sesaat
memecahku dalam kalut dan senyap
kadang ku memohon untuk mati
memohon semua ini usai
untuk akhiri semua ini atau setidaknya menepi

ku lelah berlari diantara pertanyaan
diantara bimbang dan rotasi
ku lelah bertahan dan mencoba mengerti
tak ada ruang bagiku tuk berhenti
ini adalah jalan satu arah dan tak ada perputaran lagi

ku tak ingin penyelamat atau siapapun disini
tidak aku, tidak jua kau
aku, hanya aku, karena ku memang sendiri
karena ku memang selalu sendiri

namun jika kau ingin
duduklah disini dekatku
jangan berkata, peluk aku, peluk aku sangat
dekap aku erat seakan kau takkan pernah relakan ku pergi
jangan berkata, tolong jangan berkata
ku tak bisa mendengar, ku tak bisa merasa

dekapku erat hingga ku rasa kau disitu
pelukku erat, hingga kurasa kau hadir untukku
ada disini tuk selalu

Tuesday, January 5, 2010

Tahun baru, resolusi baru?

Tak terasa kita telah sampai ke tahun yang baru, tahun yang lalu telah kita tinggalkan dan tidak akan pernah kembali lagi. Seiring dengan dimulainya tahun yang baru, banyak dari kita yang kembali membuat resolusi untuk tahun ini, dan mungkin seperti itulah tradisi yang kita lakukan, buat resolusi demi resolusi , tidak salah sih, Cuma apakah kita pernah cek lagi – resolusi yang tahun kemarin kita ucapkan, ada berapa yang terwujud, ada berapa yang gagal, atau malah sebagian besar dari itu Cuma sebagai resolusi doang alias ngga pernah dilaksanakan.

Bagi mereka yang membuat resolusi umunya temanya sama, yaitu tahun depan harus lebih baik dari tahun ini, resolusi yang mungkin bisa dibilang terlalu umum, atau mungkin kita ngga tahu mau membuat resolusi tentang apa, jadi langkah amannya kita buat resolusi yang umum saja, jadi suka-suka kita mentafsirkan resolusi itu, resolusi juga bisa dijadikan langkah yang ampuh untuk memompa semangat kita menghadapi tahun yang baru. Mungkin bisa dibilang sebagai tambahan bahan bakar kita agar kita lebih optimis di tahun-tahun mendatang, dan ini bisa digunakan apabila kita mulai kehabisan bahan bakar dan nafas di penghujung tahun =)

Jika kita harap tahun ini lebih baik dari tahun kemarin, itu sudah “kewajiban”, nah sekarang pertanyaannya adalah bagaimana? Bukan masalah sejauhmana kita menginginkan tahun ini lebih baik, tapi bagaimana cara untuk mencapainya. Seringkali kita membuat resolusi yang tinggi, sedangkan kita tak tahu bagaimana cara mencapainya dan akhirnya pada ujung tahun itu akan tetap jadi resolusi yang sebatas resolusi, bukan resolusi yang menjadi kenyataan dan begitu berulang-ulang

Belajarlah untuk menyerah

Menyerah? Mungkin yang akan kamu pikirkan adalah sebuah kekalahan, bukan sebuah cara yang bisa dibilang gentleman untuk menyelesaikan sebuah persoalan. Di satu sisi mungkin iya, tapi disisi yang lain bisa saja tidak. Menyerah disini bukan dalam arti merelakan tanpa perjuangan, tapi mungkin ada saat dimana kita telah sampai di suatu titik disaat kita sudah coba yang kita bisa mungkin disitulah kita juga harus bersiap untuk mendapatkan hasilnya, baik yang terbaik, maupun yang terburuk. Bukan kita berharap yang terburuk, tapi setidaknya kita sudah mencoba.

Kita tak mungkin mendapatkan semua yang kita inginkan, ada saat dimana semua mungkin dan ada saat pula dimana semuanya menjadi tidakmungkin. Kegagalan dalam apapun bentuknya pasti membuat orang kecewa, apalagi disaat kita telah berusaha untuk mendapatkannya, tapi bukan kegagalan yang semestinya menjadi tolok ukur kita, namun seberapa jauh kita bisa menerima sebuah kegagalan itu.

Idealnya jika kita sanggup untuk berjuang untuk seseorang atau sesuatu, seharusnya keinginan kita juga sebesar itu bila kita tak mampu mendapatkannya, jika kau dapat memberikan 120% untuk orang lain maka seharusnya kau juga siap 120% untuk tanpa orang lain.

Sunday, January 3, 2010

Apa yang orangtua sering lewatkan

Menjadi orangtua memang tidak mudah, dan karena itulah tidak ada orang benar-benar siap menjadi orangtua. Menjadi orangtua adalah sebuah proses belajar, belajar dari orang lain dari pengalaman dan lain sebagainya. Namun dengan posisi kita sebagai orangtua, tidak menjadikan kita tahu segalanya, kadang malah sebaliknya dan itu mengakibatkan hubungan yang kurang ideal antara orangtua dan anak-anaknya.

Memang tidak ada orangtua yang sempurna, semua punya kekurangannya, hanya mungkin ada beberapa hal yang cukup mengganggu dalam sebuah hubungan keluarga, seperti kurangnya niat untuk mendengar dan egoisitas orangtua dalam membangun keluarganya, namun bagaimanapun kita harus sadar bahwa adalah keinginan semua orangtua untuk melihat anak-anak mereka berhasil, walalu kadang mereka tak tahu bagaimana menyampaikannya ke anak-anak mereka agar mengerti

Cobalah untuk mendengar
Mungkin ini yang sering menjadi permasalahan antara orangtua dan anak, seringkali orangtua merasa tahu segalanya, sehingga mereka berhak menentukan apa yang baik dan apa yang tidak. Mereka pernah muda, memang benar, tapi adakah mereka meluangkan waktu untuk diam sesaat dan mendengar dari sisi anak-anak mereka, berhentilah berkata tidak karena itu takkan berjalan. Cobalah untuk mendengar dan jadikan mereka sebagai sahabat, sebagai teman dan jangan jadikan mereka sebagai bawahan yang harus mengikuti apa yang kita katakan. Seringkali orangtua menghadapkan anak-anak mereka seperti halnya dalam rapat, atau malah dalam kondisi yang lebih buruk lagi: seperti interogasi, dan siapapun pastinya tidak akan nyaman dalam kondisi seperti itu.
Ketidakinginan untuk mendengar juga mengakibatkan anak-anak tidak terbuka pada orangtua mereka, terutama menyangkut masalah-masalah yang menurut mereka sensitif dan bukankah ini akan menjadi kerugian kita juga?.

Jadikan mereka seperti mereka dan bukan seperti kita
Mereka adalah mereka dan bukan kita, tidak seharusnya kita menjadikan mereka seperti kita. Banyak orangtua yang “play god” dalam kehidupan anak-anak mereka, menentukan apa yang seharusnya menjadikan mereka seperti boneka. Memang benar kita adalah orangtuanya dan kita punya kewajiban untuk menjadikan hidup mereka lebih baik, mereka akan sedih bila menemukan anaknya dalam keadaan yang sebaliknya, namun jangan jadikan mereka boneka kita, mereka punya dunianya sendiri sepertihalnya kita. Alangkah menyedihkan melihat orangtua yang merasa bangga melihat anaknya menjadi seperti dia dan bukan seperti yang mereka mau.

Kita tidak sempurna dan takkan pernah sempurna
Kita memang tak pernah sempurna, jika dulu kita pernah merasakan masa-masa sulit, tentusaja kita tak ingin anak-anak kita merasakan hal yang sama pula, namun bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Jika mereka tidak pernah merasakan masa sulit bagaimana mereka akan menghargai apa yang mereka dapatkan disaat ini?
Jangan jadikan mereka buta karena mereka tak pernah melihat kenyataan diluar sana. Biarkan mereka menemukan arahnya sendiri dengan segala yang mereka punya, kita sebagai orangtua hanya mengarahkan ini yang semestinya dan itu tidak
Biarkan mereka menyadari ketidaksempurnaan mereka dan mencari cara untuk menggenapinya, karena tiap manusia memang diciptakan berbeda. Kita tak dapat “play god” terhadap mereka hanya karena kita adalah orangtua mereka.

Berilah contoh yang baik
Banyak orangtua yang mengatakan hal-hal baik pada anak mereka, namun mereka seringkali mencontohkan hal-hal yang sebaliknya, mereka dengan amat sangat sadar menampilkan ambiguitas antara yang mereka sampaikan dan apa yang mereka lakukan.
Anak-anak yang menerima ambiguitas seperti itu secara tidak langsung akan memaknai bahwa tindakan seperti itu di bolehkan. Kenapa? Karena orangtua mereka melakukannya. Bukankah anak-anak adalah cermin dari orangtuanya? Jika anak kita berbuat salah sebelum kita marah kepada mereka mungkin hal pertama yang perlu kita tanyakan adalah diri kita sendiri. Sudahkah kita memberikan contoh yang benar kepada mereka, jangan-jangan mereka berbuat seperti ini karena mereka melihat orangtuanya berlaku demikian

10 Steps To Heal Broken Heart (6-10)

6.Ini hidupmu
Banyak orang yang demi orang lain akhirnya menghancurkan hidupnya. Jika dilihat dari sudut pandang apapun itu memang salah, tapi kita tidak dengan mudah mempersalahkan mereka bila mereka mengambil keputusan seperti itu. Banyak hal yang mendorong seseorang mengambil tindakan yang secara akal sehat bisa dibilang tidak benar. Tapi bagaimanapun pernahkah kita berpikir bahwa ini adalah hidup kita, dan bagaimanapun ini akan jadi milik kita, atau dengan kata lain baik atau buruknya akan kembali ke kita, bukan ke orangtua kita, teman atau sahabat ataupun orang lain.
Pernahkah kita berpikir jika suatu saat kau menghancurkan hidupmu untuk seseorang yang kau sayang dan ternyata dia sama sekali tidak peduli denganmu, apakah itu adil? Hidup ini memang tidak adil, tapi jangan jadikan itu alasan bagimu untuk membenarkan tindakanmu. Apakah jika kau hancur kemudian dia akan kembali padamu? Jika kau hancur dan dia kembali, apakah semuanya akan baik-baik saja? Mungkin tidak, mungkin akan lebih buruk dari apa yang penah kau pikirkan
Kita hidup untuk orang lain, akan sangat menyakitkan melihat orang yang kita sayang hancur dihadapan kita dan kita tak dapat melakukan apa-apa untuk menyelamatkannya, dan itu juga yang akan dirasakan oleh orang-orang terdekat kamu. Mungkin kamu pernah mendengar sebuah kutipan yang mengatakan “bila rintangan itu terasa semakin berat, ingatlah pertolongan akan segera datang”, mungkin itu memang benar, ada kalanya kita tak perlu melawan, kita hanya perlu duduk diam dan tetap bertahan untuk esok, karena esok pertolongan akan datang =)

7.Ubah fokusmu
Coba ubah fokusmu, cari kegiatan lain yang mungkin bisa mengalihkan pikiranmu sejenak dari memikirkan semua yang membuatmu down, coba habiskan waktumu dengan menjalani hobimu, kumpul dengan teman-teman, atau apapun yang dapat kau lakukan untuk mengisi kekosongan waktumu.
Jika kau belum siap untuk mengisi ruang kosong yang dia tinggalkan maka jangan kau paksa dirimu. Banyak orang yang mencari pengganti hanya untuk mengisi seruang kosong itu. Memang sebagian berguna, tapi mungkin tidak. Kita ingin mengisinya karena kita takut merasa kehilangan, kita takut merasa kesepian dan tak ada seorangpun disitu dan jika kau mencari orang lain hanya untuk menutup rasa kosong di hatimu, mungkin seperti itulah kau menghargai perasaanmu.
Ubah fokusmu, bukan dalam arti kau melarikan diri dari kenyataan yang kau hadapi, hanya sejenak untuk menyingkir dari segala kekacauan ini, waktu untuk berpikir dan mungkin kau akan menemukan jalan keluar yang lebih baik dari apa yang pernah kau pikirkan, kita tak pernah tahu..

8.Sederhanakan harapanmu
Tidak ada yang instan dalam kehidupan ini, jika kau terluka sekarang tidak mungkin dalam waktu 2 hari semua akan baik-baik saja. Jika seseorang mengatakan aku terluka dan beberapa hari kemudian dia baik-baik saja kita dapat memperkirakan apa yang dia bilang itu bohong.
Hati mungkin bisa dibilang seperti tubuh, jika dia terluka parah tak mungkin sembuh dalam hitungan hari, mungkin minggu, mungkin pula tahun dan meskipun luka itu telah sembuh mungkin bekasnya takkan hilang dan rasa sakitnya kadang kembali lagi. Begitupun dengan hati, kita tak bisa mengatakan dengan pasti 2 minggu lagi aku akan baik-baik saja. Banyak orang yang terlihat baik, namun di dalam hatinya ternyata sebaliknya. Yang tahu hatimu hanya kau dan Tuhan (tentu saja) dan semua itu perlu proses. Yang perlu kau lakukan Cuma 1 kembalikan apa yang hilang dari dirimu – dan kau tahu apa itu, jika ia tidak kembali, tak perlu ruang itu kau isi dengan yang lain hanya untuk menyenangkan hatimu karena itu tidaklah berguna. Kau pernah dengar kalimat “100 mil itu dimulai dari 1 langkah” dan itu memang benar, kita tak perlu melihat akan sampai mana kita nanti, kita hanya cukup ambil 1 langkah saja, lalu 1 langkah lagi

9.Terimakasih pada Tuhan
Berterimakasihlah pada Tuhan atas setiap momen yang telah Ia beri untuk kita. Walapun kita kecewa, yakinlah Tuhan adalah sebaik-baik perencana bagi mahluknya. Kadang kita berpikir Tuhan itu tidak adil, mengapa disaat seperti ini kita dipisahkan, kenapa tidak nanti dan lain sebagainya. Bahkan mungkin kita juga pernah berpikir kalau begini Tuhan jahat sama saya karena memberikan perasaan ini, mempertemukan aku dengan dia dan memisahkan kita kemudian. Sebenarnya tidak begitu kenyataannya, Tuhan mempertemukan kita dengan kenyataan seperti ini untuk sebuah alasan yang mungkin kita tidak mengerti.
Tidak ada yang salah dengan semua ini, mungkin suatu saat nanti kita akan berpikir, entah 5 tahun atau 12 tahun lagi bahwa mungkin memang begini jalannya.

10.Berdoa
Bagian terakhir, yaitu tetaplah berdoa. Bukankah Tuhan senang apabila hambanya meminta kepada Nya?, bukankah sebaik-baiknya umat adalah yang meminta yang terbaik baginya, dan hanya pada Yang Kuasa lah semua itu mungkin. Jadi jangan putus asa bila rasa itu tak jua hilang walaupun kau telah berusaha, ingatlah semua itu adalah punya Tuhan.
Bila kau masih punya rasa, itu berarti Tuhan masih percaya sama kamu dengan menitipkan perasaan itu, dan bila Tuhan menentukan saatnya semua itu usai maka niscaya Ia akan mengangkat perasaan itu dari hatimu dan Tuhan melakukannya untuk satu tujuan: menguji dirimu, apakah kau layak untuk mendapatkan yang lebih baik dari Nya atau tidak.

10 Steps To Heal Broken Heart (1-5)

1. Jujur pada diri sendiri
Banyak orang yang ketika terluka ia mengatakan baik-baik saja, padahal ia sama sekali tidak baik sama sekali. Banyak orang yang terlihat baik-baik saja diluar, tetap merasa seperti orang lain tetapi ketika ia sendirian ia akan menangis sejadi-jadinya. Banyak orang yang tidak jujur bahkan kepada dirinya sendiri ketika menyangkut perasaan terhadap orang lain, benar perasaan itu membuat kita menjadi amat sangat subyektif, tapi bagaimanapun kita tidak bisa melihat dari sisi subyektifitas kita sendiri. Bahkan dalam beberapa kasus kita lebih baik dibohongi dan kita dengan amat sangat sadar bahwa kita dibohongi dan menganggapnya fine karena kita tak ingin terluka jika melihat kenyataannya ternyata berbeda.
Dengan alasan perasaan juga kita kadang menjadi amat sangat toleran terhadap kesalahan-kesalahan yang dalam kondisi umum kita tak dapat terima, betapa kita kadang terlalu sering membiarkan seseorang melakukan kesalahan yang sama karena kita merasa sayang pada mereka dan kita tak ingin hanya karena kita berkata tidak maka membuat mereka menjauh dari kita dan menghancurkan segala yang kita ingin bangun dan jaga
Cobalah jujur, minimal untuk diri kita karena bagaimanapun ini takkan berjalan bila kita tak mulai dari dalam diri kita. Kita tak perlu berpura-pura jadi orang lain dan menganggap semua baik-baik saja saat kau merasa begitu hancur didalam, kita juga tak perlu berpura-pura kuat padahal kita sebaliknya begitu rapuh.
Jujur juga berarti kau meringankan sedikit beban yang kau simpan, jangan habiskan waktumu untuk menyangkal apa yang sebenarnya kau rasa, kita semua punya alasan, memang benar kita semua punya alasan mengapa kita berusaha mempertahankan sebuah hubungan, tapi tidak dengan membohongi dirimu dan apa yang kau rasa

2.Jangan salahkan orang lain
Jika sesuatu tak berjalan sesuai dengan yang kita inginkan tentu kita kecewa, dan langkah paling mudah untuk merecovernya adalah dengan menunjuk orang lain sebagai sumber kesalahan. Tapi bukankah sebuah hubungan yang kita bangun yang menentukan kearah mana ini kan berlanjut itu kita sendiri, orang lain memang berperan sebagai setan atau sebagai malaikat dalam hubungan kita, tetapi yang menentukan ini dan itu adalah kita.
Menunjuk orang lain sebagai faktor utama sebuah kehancuran itu bukanlah sebuah tindakan yang bijaksana, mungkin memang sedari awal ada yang salah dalam hubungan kita, tapi kita tak pernah menyadarinya, atau mungkin kita sadar tapi kita tak berusaha memperbaikinya, atau mungkin kita perbaiki tidak semuanya dan mengganggap semua akan selesai seiring waktu.
Hubungan bukanlah mainan yang kita ambil pada saat kita ingin dan membuangnya pada saat kita bosan, itu perlu waktu, tenaga dan pengertian dan mungkin lebih dari itu. Sebuah hubungan yang kuat tak mungkin muncul dalam 1 atau 2 bulan saja bahkan kita juga melihat banyak hubungan yang berjalan bertahun-tahun hancur begitu saja karena alasan yang bisa dibilang sepele.
Menyalahkan orang lain juga berarti kita membuat gambaran bahwa kita benar, apakah begitu? Coba kita lihat lagi, dengan menunjuk orang lain berarti kita tidak mengakui apa saja yang salah dalam hubungan kita, mungkin yang salah bukan dari sisi kita tapi mungkin dari sisi pasangan kita dan yang tahu hanya kita, bukan mereka.

3.Sadarilah apa yang terbaik
Banyak alasan mengapa hubungan yang kita berusaha bangun dan jaga malah berakhir dengan kekacauan dan tragedi, semua punya alasan. Semua yang terjadi dalam hidup kita punya alasan, kadang kita amat sangat kecewa mengapa ini semua bisa terjadi dalam kehidupan kita. Kenapa sekarang disaat kita merasa amat sayang, disaat kita ingin jaga semua ini dan ternyata semua itu sia-sia dan semua harapan yang kita bangun lenyap begitu saja.
Jika saja kita punya pilihan yang lebih baik saat itu mungkin semuanya tidak akan berakhir seperti ini, tapi jika yang terbaik untuk kita adalah seperti ini, apa yang dapat kita lakukan lagi? Yang terbaik untuk kita, bukan yang terbaik untukku atau untukmu.
Bukanlah semestinya jika orang yang kita sayangi mendapatkan yang lebih baik kita juga turut merasa senang? Jika kita sayang terhadap sesuatu umumnya mendorong kita untuk memiliki, sedangkan memiliki adalah bentuk posesifitas atau mungkin egoisitas kita dalam sebuah hubungan. Memang sulit, disaat kita amat sayang hubungan yang kita perjuangkan itu runtuh begitu saja dan sekian waktu yang kita lalui bersama hilang begitu saja.
Bukankah cinta tak harus memiliki? Memang benar seperti itu, memiliki atau tidak sebenarnya itu bukan masalah, apa gunanya memiliki tapi kita tak pernah ada untuknya? Namun bagaimanapun dia harus tahu bahwa ada orang yang amat sayang padanya, dan tidak mau dia terluka untuk alasan apapun, dan jika dia memilih yang terbaik untuk dia dan itu bukan kita, itu adalah orang lain, mungkin memang mesti begitu. Jika kau teramat sayang padanya dan siap memperjuangkan segalanya untuknya, mungkin ini saatnya kita mulai belajar untuk melepaskan dia sebesar rasa sayang kita padanya dan semua itu punya alasan, tak ada satupun kejadian yang kita alami terjadi karena kebetulan.

4.Habiskan apa yang kau rasa
Mungkin cara yang paling mudah adalah dengan habiskan apa yang kau rasa, apapun itu semuanya. Setiap orang pasti akan merasa sangat kecewa bila hubungan yang telah ia bangun dengan niat yang baik hancur begitu saja, apalagi hanya karena alasan yang mungkin bisa dibilang sepele. Luapkan semua apa yang kau rasa, apakah itu dalam bentuk tangisan, amarah ataupun lainnya, jangan simpan untuk dirimu sendiri karena kau takkan tahu berapa banyak yang dapat kau simpan dan kau tahan.
Setiap emosi yang kau simpan pada dasarnya sama saja seperti menuangkan air dalam sebuah gelas, jika kau tidak ingin air itu meluap, setidaknya kau akan berusaha untuk menguranginya namun jangan terlalu banyak. Banyak orang dengan alasan yang sentimentil pada akhirnya menghasilkan berbagai output yang mengesankan, misalnya sebuah lagu, puisi, novel atau lainnya, sungguh ironis saat kita mengetahui sebuah karya yang bagus itu merupakan produk dari sebuah kehancuran.

5.Berbagi
Share alias berbagi, memang itu adalah salah satu cara untuk mengurangi beban yang kau rasa. Kadang pada saat kita tertekan kita tidak butuh seorangpun untuk memberitahu apa yang harus kita lakukan, tapi kita hanya butuh seseorang yang ada disaat kita ingin bercerita, seseorang yang ada untuk mendengarkan semua apa yang kita rasakan, hanya itu.
Dengan berbagi kita juga memberikan kontribusi pada orang lain (asal jangan dijadikan sebagai media untuk menjelek-jelekkan dan memanipulasi fakta tentang hubungan kita) dalam hubungannya diwaktu yang lain. Dengan berbagi kita juga “mendorong” orang lain untuk melihat sebuah kenyataan yang mungkin terjadi dalam hubungan yang sekarang ia jalani, maksudnya jikalau suatu saat hubungan dia memburuk mungkin dia akan ingat bahwa kita dulu juga begini, dan mungkin dia akan berbuat yang lebih baik dibandingkan kita sekarang.