Ini adalah kalimat klise yang mungkin kita dengar ratusan kali, bahwa semua butuh proses, dari pelajar, karyawan, orang muda sampai kakek-kakek pasti pernah dengar kalimat itu
Memang semua butuh proses, tidak ada hal di dunia ini yang muncul sekejap mata, semua butuh proses yang tak mudah, kamu pernah lihat behind the scene pembuatan film? Sebuah adegan yang durasinya 2 jam butuh berbulan-bulan take dan puluhan jam buat mengeditnya.
Kita sering melihat pada hasil akhirnya, bukan pada prosesnya dan inilah yang membuat kita “tumpul”, kenapa? Karena sebagian besar orang melihat dari hasil akhirnya, apakah sesuai dengan kriteria atau tidak. Jika sesuai berarti bagus jika tidak, berarti harus masuk ke bak sampah. Apakah sesederhana itu?
Jika kita berbicara tentang produk mungkin iya, tapi bila kita berbicara tentang hidup, aku kira jawabannya amat jelas: tidak. Hidup bukan hanya mengenai apa yang kamu dapatkan pada esok tapi lebih apa yang kamu pahami untuk esok. Tidak ada orang yang tiba-tiba muncul sebagai ahli fisika tanpa proses belajar, dan belajar itu bukan dalam hitungan jam, bulan bahkan mungkin tahunan agar dia benar-benar bisa dan layak mendapatkan gelar ahli
Pernah masak mi instan? Pastinya pernah kan... mi instan saja yang dari judulnya instan, tidak sertamerta begitu kita buka bungkusnya kita dapat memakannya (kecuali mungkin lagi kepepet, maka kita akan makan begitu saja) semua butuh proses.
Jika kita hanya meliha hasil akhir saja, berarti kita melupakan proses yang penting bagi terciptanya hasil akhir itu sendiri, bukankah tanpa proses kita tidak akan pernah mendapatkan hasil akhir itu?
Tuesday, February 16, 2010
Terimakasih
Sebuah kata yang mungkin amat sering kita dengar dan kita ucapkan. Terimakasih hanyalah sebuah kata, namun berarti banyak.
Banyak orang berterimakasih hanya sebatas ucapan di bibir saja, sekadar “penghargaan” atas bantuan yang diberikan seseorang terhadap kita, dan itu menjadikan kata yang seharusnya bermakna lebih menjadi “berkurang” maknanya.
Dulu saya pernah membaca sebuah cerpen kalau tidak salah di majalah Bobo, disitu diceritakan bahwa ada seorang anak yang suka menolong, namun setiapkali orang yang ditolong mengucapkan terimakasih, ia berkata “jangan berterimakasih kepada saya, tapi berterimakasihlah kepada Tuhan”, dan memang benar seharusnya kita lebih berterimakasih kepada Tuhan karena Dia memperkenankan seseorang menolong kita.
Berterimakasih dapat dikatakan sebagai “pengakuan” kita atas segala kekurangan kita, tidak ada manusia yang sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itulah yang “mewajibkan” kita untuk saling tolong menolong dan saling melengkapi.
Nah pertanyaannya sekarang adalah seberapa sering kita berterimakasih kepada Tuhan atas segala karunia yang Ia berikan pada kita? Kita seringkali lebih suka berterimakasih pada orang lain dan menempatkan Tuhan dalam urutan ke 300 dari terimakasih kita, bukankah bila Tuhan tak berkehendak semua ini takkan terjadi?
Banyak orang berterimakasih hanya sebatas ucapan di bibir saja, sekadar “penghargaan” atas bantuan yang diberikan seseorang terhadap kita, dan itu menjadikan kata yang seharusnya bermakna lebih menjadi “berkurang” maknanya.
Dulu saya pernah membaca sebuah cerpen kalau tidak salah di majalah Bobo, disitu diceritakan bahwa ada seorang anak yang suka menolong, namun setiapkali orang yang ditolong mengucapkan terimakasih, ia berkata “jangan berterimakasih kepada saya, tapi berterimakasihlah kepada Tuhan”, dan memang benar seharusnya kita lebih berterimakasih kepada Tuhan karena Dia memperkenankan seseorang menolong kita.
Berterimakasih dapat dikatakan sebagai “pengakuan” kita atas segala kekurangan kita, tidak ada manusia yang sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itulah yang “mewajibkan” kita untuk saling tolong menolong dan saling melengkapi.
Nah pertanyaannya sekarang adalah seberapa sering kita berterimakasih kepada Tuhan atas segala karunia yang Ia berikan pada kita? Kita seringkali lebih suka berterimakasih pada orang lain dan menempatkan Tuhan dalam urutan ke 300 dari terimakasih kita, bukankah bila Tuhan tak berkehendak semua ini takkan terjadi?
Friday, February 12, 2010
You Can’t Buy A Heart
Apa yang mungkin banyak orang pikirkan saat Valentine? Jawabannya mungkin adalah hadiah
Hadiah? Mungkin itu tujuan banyak orang, apa yang mereka dapatkan, apa yang mereka beri. Tapi apakah itu saja? Aku rasa tidak
Banyak orang yang berbicara tentang apa yang kita dapatkan, tapi hanya sedikit orang yang berbicara tentang hati. Jika kamu dapat, kamu bisa membeli semua yang kamu inginkan, tapi kamu takkan pernah bisa membeli hati yang sayang kepadamu
Hadiah? Mungkin itu tujuan banyak orang, apa yang mereka dapatkan, apa yang mereka beri. Tapi apakah itu saja? Aku rasa tidak
Banyak orang yang berbicara tentang apa yang kita dapatkan, tapi hanya sedikit orang yang berbicara tentang hati. Jika kamu dapat, kamu bisa membeli semua yang kamu inginkan, tapi kamu takkan pernah bisa membeli hati yang sayang kepadamu
10 Februari 2010
Sebuah kartu ungu di perbatasan sang waktu
Untukmu
Untuk sepenggal kisah, percaya dan ragu
Untuk rotasi dan pertemuan itu
Sebuah kartu ungu di depan pintu
Menunggu dalam hening untukmu
Untuk seucap kata, doa juga rindu
Untuk segala yang membuat kita satu
Untuk alasan dan pembenaran mengapa ku mencintaimu
Sebuah kartu, ungu
Untukmu, sore itu
Saat gerimis kembali dan perih mencapai nadi
Saat tiada kita, tak ada kau, hanya ku sendiri
Hanya ku, tanpamu, sepi
Sebuah kartu ungu
Untukmu
Pada 14 Februari
Saat pertentangan bertemu dalam badai
Saat rasa meluap dan tenggelamkanku disini
...
Aku mencintaimu
Tidak karena, kau...
Tidak pula karenaku...
Tapi karena ku percaya kau yang terbaik bagiku...
Untukmu
Untuk sepenggal kisah, percaya dan ragu
Untuk rotasi dan pertemuan itu
Sebuah kartu ungu di depan pintu
Menunggu dalam hening untukmu
Untuk seucap kata, doa juga rindu
Untuk segala yang membuat kita satu
Untuk alasan dan pembenaran mengapa ku mencintaimu
Sebuah kartu, ungu
Untukmu, sore itu
Saat gerimis kembali dan perih mencapai nadi
Saat tiada kita, tak ada kau, hanya ku sendiri
Hanya ku, tanpamu, sepi
Sebuah kartu ungu
Untukmu
Pada 14 Februari
Saat pertentangan bertemu dalam badai
Saat rasa meluap dan tenggelamkanku disini
...
Aku mencintaimu
Tidak karena, kau...
Tidak pula karenaku...
Tapi karena ku percaya kau yang terbaik bagiku...
Tuesday, February 9, 2010
Diamlah Untuk Sesaat
Kita yang hidup di jaman yang bisa dibilang modern sekarang ini sudah tidak dapat dipisahkan lagi dengan namanya konektifitas, kemanapun kita pergi kita dapat menjumpai orang-orang yang menggunakan hp, siaran TV 24 jam full, internet dengan segala fasilitas dan rupanya yang mendorong orang-orang terus “terjaga” dan lain sebagainya. Nah dengan keadaan seperti itu adakah waktu bagi diri kita sendiri? Waktu untuk “menemui” diri kita sendiri?
Dengan beragamnya informasi yang kita dapatkan menjadikan kita “tidak mempunyai waktu” untuk mengenal siapa diri kita. Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian? Mungkin itu 2 tahun lalu atau mungkin lebih lama lagi.
Dalam kehidupan modern ini kita sudah terkontaminasi dengan segala “keriuhan” dan melupakan yang semestinya penting bagi kita, yaitu diri kita sendiri, masihkah kita menggangap diri kita manusia bila kita sendiri tidak punya waktu untuk diri kita?
Memang tuntutan saat ini mengharuskan kita begitu, jika kita tidak mengikutinya sama saja dengan ketinggalan jaman, namun haruskah 24 jam kita habiskan dan tidak menyisakan 10 menit saja untuk berbicara dan membiarkan diri kita sendiri? Apakah adil untuk dirimu sebagian besar waktumu dihabiskan untuk mereka (teman, pekerjaan, gosip, dst...) dan kamu tidak memberikan waktu sedikit saja untuk dirimu lepas dari semua itu...
Dengan beragamnya informasi yang kita dapatkan menjadikan kita “tidak mempunyai waktu” untuk mengenal siapa diri kita. Kapan terakhir kali kamu benar-benar sendirian? Mungkin itu 2 tahun lalu atau mungkin lebih lama lagi.
Dalam kehidupan modern ini kita sudah terkontaminasi dengan segala “keriuhan” dan melupakan yang semestinya penting bagi kita, yaitu diri kita sendiri, masihkah kita menggangap diri kita manusia bila kita sendiri tidak punya waktu untuk diri kita?
Memang tuntutan saat ini mengharuskan kita begitu, jika kita tidak mengikutinya sama saja dengan ketinggalan jaman, namun haruskah 24 jam kita habiskan dan tidak menyisakan 10 menit saja untuk berbicara dan membiarkan diri kita sendiri? Apakah adil untuk dirimu sebagian besar waktumu dihabiskan untuk mereka (teman, pekerjaan, gosip, dst...) dan kamu tidak memberikan waktu sedikit saja untuk dirimu lepas dari semua itu...
What You Don’t Know Aint Hurt You
Itu yang kadang kita dengar, apa yang tak kamu ketahui takkan melukaimu. Atau malah sebaliknya kamu takut terluka jadi lebih baik jika berpura-pura tidak tahu dan menganggap semua berjalan baik-baik saja.
Seringkali orang dengan sadar membiarkan dirinya “dibohongi” karena dia tak ingin melihat kenyataan yang terjadi seperti itu, mereka lebih memilih membiarkan semua itu berjalan dengan salah karena mereka takut akan rasa sakitnya, bukankah rasa sakit itu menggugah kesadaran? Jika kita beranggapan semua baik-baik saja sama saja membiarkan diri kita jatuh lebih dalam dan lebih dalam lagi. Jika kamu sakit dalam stadium awal pasti pengobatannya sederhana dan cepat, namun jika kamu beranggapan semua OK padahal kamu tahu kenyataannya itu berbeda, sama saja membiarkan dirimu sakit tanpa mendapatkan pengobatan, dan ketika kamu sadar mungkin kamu akan terkejut berapa banyak bagian dari dirimu yang telah hilang
Tidak semua orang punya keberanian untuk menghadapi kenyataannya dengan sadar, memang kesadaran itu menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi bila kamu tak melakukan yang dapat kamu lakukan (dan lebih baik tentusaja) karena takut menghadapi kenyataan.
Berarti pilihan kita hanya tersisa 2, yaitu: (1) hadapi apa yang terjadi dengan sadar, dalam arti kita menyiapkan diri dengan segala kemungkinannya atau (2) hadapi saja dan pura-pura semua baik-baik saja. Kamu akan pilih yang mana? It’s up to you, you have the reason and you are the one that will run it
Seringkali orang dengan sadar membiarkan dirinya “dibohongi” karena dia tak ingin melihat kenyataan yang terjadi seperti itu, mereka lebih memilih membiarkan semua itu berjalan dengan salah karena mereka takut akan rasa sakitnya, bukankah rasa sakit itu menggugah kesadaran? Jika kita beranggapan semua baik-baik saja sama saja membiarkan diri kita jatuh lebih dalam dan lebih dalam lagi. Jika kamu sakit dalam stadium awal pasti pengobatannya sederhana dan cepat, namun jika kamu beranggapan semua OK padahal kamu tahu kenyataannya itu berbeda, sama saja membiarkan dirimu sakit tanpa mendapatkan pengobatan, dan ketika kamu sadar mungkin kamu akan terkejut berapa banyak bagian dari dirimu yang telah hilang
Tidak semua orang punya keberanian untuk menghadapi kenyataannya dengan sadar, memang kesadaran itu menyakitkan, namun akan lebih menyakitkan lagi bila kamu tak melakukan yang dapat kamu lakukan (dan lebih baik tentusaja) karena takut menghadapi kenyataan.
Berarti pilihan kita hanya tersisa 2, yaitu: (1) hadapi apa yang terjadi dengan sadar, dalam arti kita menyiapkan diri dengan segala kemungkinannya atau (2) hadapi saja dan pura-pura semua baik-baik saja. Kamu akan pilih yang mana? It’s up to you, you have the reason and you are the one that will run it
13 Agustus 2009
Selesai sudah kita
Usai sudah sebuah cerita
Aku, kau, juga kita
Tak ada jika
Tak ada lagi bila
Ini adalah titik, tak lagi koma
Maafkan aku untuk semua
Tuk disisimu saat senja
Bersamamu dalam parade dan airmata
Dalam pasang, pertentangan juga tawa
Maafkan aku tuk semua
Tuk semua yang pernah ku kata
Tuk semua yang membuatmu kecewa
Tuk semua yang tak kita lalui bersama
Maafkan aku karena tak pernah jadi yang terbaik bagimu
Tak pernah dapat berikanmu sekeping hati , hanya pecahan ini
Tak pernah dapat berikanmu arti, hanya seruang sepi
Juga tolong maafkan aku untuk semua yang tak dapat ku penuhi
Dan disinilah kita
Diam dalam ragu dan tanya
Sunyi dalam kelu, tak berkata
Karam dan tak kuasa meminta
Ku tak ingin menatap matamu yang berkaca
Ku benci memelukmu dan tinggalkan kegalauan diujung sana
Kau adalah kekasihku
Dan akan tetap jadi kekasihku sampai kapanpun jua
Ini adalah rinduku
Untukmu dan kan tetap untukmu selamanya
Dan jika ku boleh berkata
Terimakasih kau telah berikan ruangmu untukku
Berikan langitmu yang biru
Penuhi imagiku dengan udaramu
Lengkapiku dengan gelombangmu
Dengan badaimu, dengan gerimismu
Juga dengan rotasimu
Terimakasih untuk pecahkanku
Untuk retakkanku, untuk lukaiku
Untuk sayangimu dengan sepenuh hatiku
Juga untuk semua yang takkan terganti dalam seputaran sang waktu
Aku mencintaimu, dan hanya itu
Tidak karenamu, tidak pula karenaku
Ku tak perlu alasan mengapa aku
Untukmu, cukuplah bagiku
++ Terimakasih kau telah lukaiku dan membuatku mengerti bahwa ku memang sayang padamu
Usai sudah sebuah cerita
Aku, kau, juga kita
Tak ada jika
Tak ada lagi bila
Ini adalah titik, tak lagi koma
Maafkan aku untuk semua
Tuk disisimu saat senja
Bersamamu dalam parade dan airmata
Dalam pasang, pertentangan juga tawa
Maafkan aku tuk semua
Tuk semua yang pernah ku kata
Tuk semua yang membuatmu kecewa
Tuk semua yang tak kita lalui bersama
Maafkan aku karena tak pernah jadi yang terbaik bagimu
Tak pernah dapat berikanmu sekeping hati , hanya pecahan ini
Tak pernah dapat berikanmu arti, hanya seruang sepi
Juga tolong maafkan aku untuk semua yang tak dapat ku penuhi
Dan disinilah kita
Diam dalam ragu dan tanya
Sunyi dalam kelu, tak berkata
Karam dan tak kuasa meminta
Ku tak ingin menatap matamu yang berkaca
Ku benci memelukmu dan tinggalkan kegalauan diujung sana
Kau adalah kekasihku
Dan akan tetap jadi kekasihku sampai kapanpun jua
Ini adalah rinduku
Untukmu dan kan tetap untukmu selamanya
Dan jika ku boleh berkata
Terimakasih kau telah berikan ruangmu untukku
Berikan langitmu yang biru
Penuhi imagiku dengan udaramu
Lengkapiku dengan gelombangmu
Dengan badaimu, dengan gerimismu
Juga dengan rotasimu
Terimakasih untuk pecahkanku
Untuk retakkanku, untuk lukaiku
Untuk sayangimu dengan sepenuh hatiku
Juga untuk semua yang takkan terganti dalam seputaran sang waktu
Aku mencintaimu, dan hanya itu
Tidak karenamu, tidak pula karenaku
Ku tak perlu alasan mengapa aku
Untukmu, cukuplah bagiku
++ Terimakasih kau telah lukaiku dan membuatku mengerti bahwa ku memang sayang padamu
Jangan Bertanya Kenapa?...
Kadang kita lebih baik tidak bertanya kenapa, lebih baik kita jalani saja..
Kenapa seperti itu? Mungkin jawabannya adalah ketika kita bertanya kenapa, yang kita inginkan adalah jawaban dari pertanyaan kita, nah selanjutnya baru kita menilai apakah jawabannya seperti yang kita inginkan atau tidak. Jika kita bertanya kenapa? Mungkin berarti kita sendiri tak yakin, hingga kita bertanya agar kita mendapatkan “pembenaran” atas apa yang kita akan lakukan
Dalam hubungan antar personal, sering kita bertanya kenapa? Bukankah jawaban kenapa itu terletak di bibir saja? Kita juga tak tahu jawaban yang ia katakan itu sejujurnya atau entahlah, itu hanya Tuhan yang tahu..
Apakah rasa sayang itu perlu karena..., perlu alasan karena kamu..., aku rasa tidak – bukankah perasaan itu tak bersyarat? Ibaratnya jika kamu amat sayang dengan seseorang dan suatu saat dia melukaimu (tahu maksudnya kan...) apakah itu dengan serta merta akan memutus rasa sayang yang kamu rasakan padanya? Mungkin tidak.
Kadang kita bertanya kenapa ini terjadi sekarang, kenapa aku bukan dia, kenapa harus dia? Dan seterusnya, mungkin kita takkan pernah mendapatkan jawabannya karena mungkin yang sebenarnya itu bukan yang kita perlukan.
Jika kamu yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perencana bagi mahluknya, pasti Dia akan memberikan jalan yang lebih baik dari saat ini, jadi berikan yang terbaik darimu kemanapun jalan ini menuju..
Kenapa seperti itu? Mungkin jawabannya adalah ketika kita bertanya kenapa, yang kita inginkan adalah jawaban dari pertanyaan kita, nah selanjutnya baru kita menilai apakah jawabannya seperti yang kita inginkan atau tidak. Jika kita bertanya kenapa? Mungkin berarti kita sendiri tak yakin, hingga kita bertanya agar kita mendapatkan “pembenaran” atas apa yang kita akan lakukan
Dalam hubungan antar personal, sering kita bertanya kenapa? Bukankah jawaban kenapa itu terletak di bibir saja? Kita juga tak tahu jawaban yang ia katakan itu sejujurnya atau entahlah, itu hanya Tuhan yang tahu..
Apakah rasa sayang itu perlu karena..., perlu alasan karena kamu..., aku rasa tidak – bukankah perasaan itu tak bersyarat? Ibaratnya jika kamu amat sayang dengan seseorang dan suatu saat dia melukaimu (tahu maksudnya kan...) apakah itu dengan serta merta akan memutus rasa sayang yang kamu rasakan padanya? Mungkin tidak.
Kadang kita bertanya kenapa ini terjadi sekarang, kenapa aku bukan dia, kenapa harus dia? Dan seterusnya, mungkin kita takkan pernah mendapatkan jawabannya karena mungkin yang sebenarnya itu bukan yang kita perlukan.
Jika kamu yakin bahwa Tuhan adalah sebaik-baik perencana bagi mahluknya, pasti Dia akan memberikan jalan yang lebih baik dari saat ini, jadi berikan yang terbaik darimu kemanapun jalan ini menuju..
Gravitasi
Kembali ke gravitasi yang mau tidak mau berkaitan dengan fisika, namun yang kita bahas sekarang bukanlah hal-hal yang berkaitan dengan fisika, namun tentang kehidupan.
Aku pernah membaca sebuah karya dari Khalil Gibran, dimana Ia mengatakan bahwa burung yang terbang diangkasa bayangannya tetap berada di bawah, setinggi apapun dia terbang bayangannya tidak akan mengikuti dia ke angkasa, ia akan tetap berada dibawah
Apa yang bisa kita petik dari cerita itu sebenarnya adalah sebuah usaha untuk mensyukuri apa yang kita punya sekarang, dalam arti semuanya. Coba lihatlah ke bawah sedikit saja dan kamu akan merasa sangat-sangat beruntung ada di titik dimana kamu berdiri sekarang, jika kamu melihat keatas seperti halnya burung tadi, angkasa tak berbatas dan kamu takkan pernah merasa cukup dan takkan merasa apa yang kamu dapatkan sekarang tak berarti apa-apa
Harapan itu perlu, namun jangan sampai itu mengalahkan rasa syukur kita atas apa-apa yang kita punya sekarang, bukankah Tuhan senang bila hambanya bersyukur kepada ya, dan bukankah itu kewajiban kita sebagai mahluk ciptaan Nya?
Aku pernah membaca sebuah karya dari Khalil Gibran, dimana Ia mengatakan bahwa burung yang terbang diangkasa bayangannya tetap berada di bawah, setinggi apapun dia terbang bayangannya tidak akan mengikuti dia ke angkasa, ia akan tetap berada dibawah
Apa yang bisa kita petik dari cerita itu sebenarnya adalah sebuah usaha untuk mensyukuri apa yang kita punya sekarang, dalam arti semuanya. Coba lihatlah ke bawah sedikit saja dan kamu akan merasa sangat-sangat beruntung ada di titik dimana kamu berdiri sekarang, jika kamu melihat keatas seperti halnya burung tadi, angkasa tak berbatas dan kamu takkan pernah merasa cukup dan takkan merasa apa yang kamu dapatkan sekarang tak berarti apa-apa
Harapan itu perlu, namun jangan sampai itu mengalahkan rasa syukur kita atas apa-apa yang kita punya sekarang, bukankah Tuhan senang bila hambanya bersyukur kepada ya, dan bukankah itu kewajiban kita sebagai mahluk ciptaan Nya?
24 Ocktober 2009
I like your smile
It remember me to the ocean
I like you cheer
It remember me to blue sky
I like your laugh
It fills my night with thousand stars
I like your simplicity
Like there’s no yesterday, there’s no tomorrow, just today and this moment
I like the way you look at me
The way, you look, at me
I love look in your eyes
Where i can find you and find me there too
I love your whisper
There’s a silence, there’s a space then i have no word to say
I love the way you hold my hand
Make me believe that i’m not all alone
I still have you in my heart
But i hate when you make me cry
When you say no word at all
When you play with my heart
When you act like you don’t know me at all
However it aint matter after all
After what we’ve been through
There’s nothing could change what i feel
And there’s no word could tell what i feel
There’s no word
Except
I love you
++ Dedicated To Helen Simon ++
++ Happy Birthday – i hope you go much wiser day after day ++
It remember me to the ocean
I like you cheer
It remember me to blue sky
I like your laugh
It fills my night with thousand stars
I like your simplicity
Like there’s no yesterday, there’s no tomorrow, just today and this moment
I like the way you look at me
The way, you look, at me
I love look in your eyes
Where i can find you and find me there too
I love your whisper
There’s a silence, there’s a space then i have no word to say
I love the way you hold my hand
Make me believe that i’m not all alone
I still have you in my heart
But i hate when you make me cry
When you say no word at all
When you play with my heart
When you act like you don’t know me at all
However it aint matter after all
After what we’ve been through
There’s nothing could change what i feel
And there’s no word could tell what i feel
There’s no word
Except
I love you
++ Dedicated To Helen Simon ++
++ Happy Birthday – i hope you go much wiser day after day ++
Kita Hanya Punya Sekarang
Mungkin ini berkaitan dengan konsep waktu (mungkin…). Apakah kita memiliki seluruh waktu? Tentusaja jawabannya tidak, waktu berjalan dalam garis yang lurus dan apa yang telah lewat dari kemarin berarti ia tidak akan pernah kembali lagi alias akan hilang selamanya, yang esok juga belum milik kita karena ia “tak ada” ia ada saat esok, dan esok itu adalah sekarang.
Bingung? Waktu yang kita punya adalah saat dimana kamu ada, disaat itu adalah waktu kita, sebelum dan sesudahnya itu bukan karena waktu itu “tak ada”. Makanya tidak salah kutipan dari Al-Quran yang mengatakan “demi waktu, manusia itu sebenarnya merugi…” kenapa merugi? Karena kita melewatkan begitu saja waktu kita yang berharga dan waktu yang telah lewat tidak akan kembali lagi.
Kadang kita merasa waktu berjalan dengan cepat, misalnya saja saat kita sekolah, perasaan kemarin baru kelas I sekarang tiba-tiba kamu sadar sudah mau lulus, nah jika itu yang terjadi berarti Cuma ada dua kemungkinan. Pertama: kamu selama tiga tahun itu tak sadar, kedua: kamu sadar tapi melewatkan tiga tahun itu, kemana? Coba tanya sendiri…
Bingung? Waktu yang kita punya adalah saat dimana kamu ada, disaat itu adalah waktu kita, sebelum dan sesudahnya itu bukan karena waktu itu “tak ada”. Makanya tidak salah kutipan dari Al-Quran yang mengatakan “demi waktu, manusia itu sebenarnya merugi…” kenapa merugi? Karena kita melewatkan begitu saja waktu kita yang berharga dan waktu yang telah lewat tidak akan kembali lagi.
Kadang kita merasa waktu berjalan dengan cepat, misalnya saja saat kita sekolah, perasaan kemarin baru kelas I sekarang tiba-tiba kamu sadar sudah mau lulus, nah jika itu yang terjadi berarti Cuma ada dua kemungkinan. Pertama: kamu selama tiga tahun itu tak sadar, kedua: kamu sadar tapi melewatkan tiga tahun itu, kemana? Coba tanya sendiri…
Aksi Dan Reaksi
Kembali lagi ke fisika, yang mungkin tidak banyak orang yang menganggapnya sebagai pelajaran atau materi yang menarik, tapi mungkin banyak hal dalam fisika yang mungkin berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari, jika tidak dalam hitungan atau dalam prinsip
Aksi dan reaksi, ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, dimana kita akan memberikan reaksi atas sebuah aksi terhadap kita, dan reaksi setiap orang akan beragam, tidak ada orang yang bereaksi sama terhadap sebuah aksi.
Kadang kita hanya melihat dari sisi sebuah reaksi dan tidak pada sisi aksinya, artinya jangan lihat reaksi orang lain ketika kita melakukan satu hal, tapi coba lihat apa yang kita lakukan sehingga orang lain bereaksi seperti itu terhadap kita.
Cobalah melihat dari sisi orang lain sehingga kamu paham mengapa mereka akhirnya bersikap begitu, mungkin dalam skala normal mereka tidak ingin bersikap begitu kepada kamu, namun mungkin mereka tidak punya pilihan lain, jadi dengan amat sangat terpaksa mereka lakukan juga
Ibaratnya seekor binatang buruan yang sudah terpojok, dia tidak punya pilihan lain karena dia sadar bahwa bahaya telah datang, mungkin ia akan lari pertama kali tapi suatu saat ia akan melawan karena memang tidak ada pilihan lain, berhasil atau tidak itu adalah cerita lain.
Aksi dan reaksi, ini juga berlaku dalam kehidupan sehari-hari, dimana kita akan memberikan reaksi atas sebuah aksi terhadap kita, dan reaksi setiap orang akan beragam, tidak ada orang yang bereaksi sama terhadap sebuah aksi.
Kadang kita hanya melihat dari sisi sebuah reaksi dan tidak pada sisi aksinya, artinya jangan lihat reaksi orang lain ketika kita melakukan satu hal, tapi coba lihat apa yang kita lakukan sehingga orang lain bereaksi seperti itu terhadap kita.
Cobalah melihat dari sisi orang lain sehingga kamu paham mengapa mereka akhirnya bersikap begitu, mungkin dalam skala normal mereka tidak ingin bersikap begitu kepada kamu, namun mungkin mereka tidak punya pilihan lain, jadi dengan amat sangat terpaksa mereka lakukan juga
Ibaratnya seekor binatang buruan yang sudah terpojok, dia tidak punya pilihan lain karena dia sadar bahwa bahaya telah datang, mungkin ia akan lari pertama kali tapi suatu saat ia akan melawan karena memang tidak ada pilihan lain, berhasil atau tidak itu adalah cerita lain.
Kosong Sama Kosong
Bagi mereka yang fans sama Slank, pasti tahu lagu yang satu itu. Kosong sama kosong – tentang sebuah kekosongan yang mungkin tak terganti dengan apapun, dan setiap orang punya ruang itu, mereka sadar atau tidak.
Setiap manusia itu pasti tidak sempurna, itu adalah kenyataan dan karena itulah kita berusaha menutup ruang kosong yang ada, Cuma kadang beberapa dari kita lebih memilih menutup mata dan mencari pelarian dimana kosong itu tidak terasa.
Hidup ini tak sempurna, dan memang tak sempurna, hidup ini tak adil dan memang begitu kenyataannya, maka tak salah kalau agama mengatakan nanti kita akan bertemu dengan hari akhir dimana kita akan mendapatkan apa yang kita “pupuk” di dunia, apakah itu baik atau buruk.
Cobalah lihat ke dalam dirimu, lihat bukan apa yang kamu inginkan tapi apa yang telah kamu dapatkan, lihatlah betapa banyak hal yang mestinya bisa kita syukuri tapi ternyata kita sia-siakan, kita seringkali mengejar apa yang tidak kita dapatkan sekarang namun melewatkan yang kita punya sekarang, lihatlah ke dalam dirimu, betapa sebenarnya kamu diberkahi dengan banyak, sangat banyak pemberian dan anugrah dari Yang Maha Kuasa
Coba lihat tidak pada dirimu saja tapi coba lihat pada orang lain, mungkin mereka beratus-ratus kali lebih baik dari apa yang kamu punya, tapi apakah mereka merasa lebih beruntung dari kamu? Mungkin tidak, bahkan mungkin mereka tidak sampai ke poin yang sekarang kau raih..
Kamu takkan dapat mengisi seruang itu jika kamu tak tahu apa dan bagaimana dirimu yang sesungguhnya, dan disitulah pendewasaan diri bermula, jadi sekarang kamu ada diposisi mana? Coba tanya dirimu sendiri
Setiap manusia itu pasti tidak sempurna, itu adalah kenyataan dan karena itulah kita berusaha menutup ruang kosong yang ada, Cuma kadang beberapa dari kita lebih memilih menutup mata dan mencari pelarian dimana kosong itu tidak terasa.
Hidup ini tak sempurna, dan memang tak sempurna, hidup ini tak adil dan memang begitu kenyataannya, maka tak salah kalau agama mengatakan nanti kita akan bertemu dengan hari akhir dimana kita akan mendapatkan apa yang kita “pupuk” di dunia, apakah itu baik atau buruk.
Cobalah lihat ke dalam dirimu, lihat bukan apa yang kamu inginkan tapi apa yang telah kamu dapatkan, lihatlah betapa banyak hal yang mestinya bisa kita syukuri tapi ternyata kita sia-siakan, kita seringkali mengejar apa yang tidak kita dapatkan sekarang namun melewatkan yang kita punya sekarang, lihatlah ke dalam dirimu, betapa sebenarnya kamu diberkahi dengan banyak, sangat banyak pemberian dan anugrah dari Yang Maha Kuasa
Coba lihat tidak pada dirimu saja tapi coba lihat pada orang lain, mungkin mereka beratus-ratus kali lebih baik dari apa yang kamu punya, tapi apakah mereka merasa lebih beruntung dari kamu? Mungkin tidak, bahkan mungkin mereka tidak sampai ke poin yang sekarang kau raih..
Kamu takkan dapat mengisi seruang itu jika kamu tak tahu apa dan bagaimana dirimu yang sesungguhnya, dan disitulah pendewasaan diri bermula, jadi sekarang kamu ada diposisi mana? Coba tanya dirimu sendiri
Kesempatan Kedua
Setiap orang berhak buat dapat kesempatan kedua, dalam arti apapun itu. Dengan kata lain setiap orang memang berhak untuk merevisi apa saja yang salah dari apa yang telah mereka lakukan di masa lalu.
Bukan dalam arti sebuah pembenaran bahwa setiap kesalahan akan dimaafkan begitu kita merevisinya, bukan pula dalam artian kita menyiapkan diri untuk disakiti untuk yang kedua kali dan seterusnya, masalah ini akan berjalan atau tidak itu adalah masalah yang lain.
Kadang kita terlalu keras bahkan untuk diri kita sendiri, kadang kita memaksa diri kita terlalu keras sampai ke batas yang tidak realistis lagi, dan memang setiap orang membuat kesalahan. Dan karena kesalahan itu pula membuat kita berpikir dan mereview apasaja yang telah kita lewati, apa saja yang telah kita lakukan dan seterusnya.
Kesalah juga membuat kita sadar bahwa memang tak ada yang sempurna dan itu pula yang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk membuka kesempatan kedua, untuk memperbaiki apa saja yang kita tinggalkan dulu dan tak sempat kita selesaikan
Kita memang tak meminta seperti ini, tapi bukankah hidup ini serba tak pasti? Tak ada yang bisa menggaransi semua ini akan baik-baik saja sebelum semuanya terjadi, sedangkan kita juga tak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir… happy ending? Tentusaja itu harapan semua orang dan semoga saja demikian =)
Bukan dalam arti sebuah pembenaran bahwa setiap kesalahan akan dimaafkan begitu kita merevisinya, bukan pula dalam artian kita menyiapkan diri untuk disakiti untuk yang kedua kali dan seterusnya, masalah ini akan berjalan atau tidak itu adalah masalah yang lain.
Kadang kita terlalu keras bahkan untuk diri kita sendiri, kadang kita memaksa diri kita terlalu keras sampai ke batas yang tidak realistis lagi, dan memang setiap orang membuat kesalahan. Dan karena kesalahan itu pula membuat kita berpikir dan mereview apasaja yang telah kita lewati, apa saja yang telah kita lakukan dan seterusnya.
Kesalah juga membuat kita sadar bahwa memang tak ada yang sempurna dan itu pula yang seharusnya menjadi alasan bagi kita untuk membuka kesempatan kedua, untuk memperbaiki apa saja yang kita tinggalkan dulu dan tak sempat kita selesaikan
Kita memang tak meminta seperti ini, tapi bukankah hidup ini serba tak pasti? Tak ada yang bisa menggaransi semua ini akan baik-baik saja sebelum semuanya terjadi, sedangkan kita juga tak tahu bagaimana cerita ini akan berakhir… happy ending? Tentusaja itu harapan semua orang dan semoga saja demikian =)
Januari 22/11:30AM – Januari 23/07:59 AM
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari yang kau beri
Lebih dari yang terlintas saat sepi
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari apa yang kuucap nanti
Lebih dari yang ku pinta pada matahari
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari yang ku rasa di hati
Dan yang ku harap tuk esok pagi
Aku sayang padamu
Itu saja
Tanpa jika
Tanpa karena
Tanpa alasan
Apapun, kita atau apapun jua
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Karenaku? Hanya karena ku…
Atau karenamu, hanya karenamu…
Aku tak meminta apapun
Tak apapun
Aku rindu padamu
Aku rindu hujan yang dulu
Gerimismu, lautmu
Gelombangmu yang biru
Aku rindu, amat rindu padamu
Adakah ku minta lebih darimu?
Lebih dari yang kau beri
Lebih dari ruang yang kau isi?
Lebih dari yang ku ucap dalam doa untuk nanti
Apakah itu terlalu banyak bagimu?...
++ Dedicated To Helen Simon ++
Lebih dari yang kau beri
Lebih dari yang terlintas saat sepi
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari apa yang kuucap nanti
Lebih dari yang ku pinta pada matahari
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Lebih dari yang ku rasa di hati
Dan yang ku harap tuk esok pagi
Aku sayang padamu
Itu saja
Tanpa jika
Tanpa karena
Tanpa alasan
Apapun, kita atau apapun jua
Adakah ku meminta lebih dari ini?
Karenaku? Hanya karena ku…
Atau karenamu, hanya karenamu…
Aku tak meminta apapun
Tak apapun
Aku rindu padamu
Aku rindu hujan yang dulu
Gerimismu, lautmu
Gelombangmu yang biru
Aku rindu, amat rindu padamu
Adakah ku minta lebih darimu?
Lebih dari yang kau beri
Lebih dari ruang yang kau isi?
Lebih dari yang ku ucap dalam doa untuk nanti
Apakah itu terlalu banyak bagimu?...
++ Dedicated To Helen Simon ++
Cobalah Melihat Kebawah
Khalil Gibran pernah menuliskan dalam salah satu karyanya bahwa burung yang terbang diangkasa pun bayangannya akan tetap berada di bawah.
Dan memang seharusnya kita juga berbuat seperti itu, setinggi apapun pencapaian kita sekarang sepantasnya kita juga melihat kebawah, dengan melihat kebawah kita akan merasa lebih bersyukur atas apa yang kita raih, dan seberapa beruntung kita bila dibandingkan dengan mereka yang lain
Melihat ke atas berarti kita hanya melihat apa yang tidak kita punya sekarang, dan bukan pada apa yang kita punya sekarang, kita lebih suka menghitung dan menilai sesuatu dari apa yang bisa kita hitung, yang bisa kita rating dan seterus dan seterusnya.
Sebenarnya tidak salah sih melihat keatas, karena dengan itu kita bisa berharap, kita bisa bermimpi dan berusaha menjadikannya sebuah kenyataan karena langit itu tak berbatas (ingat ada pepatah yang mengatakan bahwa diatas langit ada langit lagi...) – (namun di langit yang luas itu tidak ada tempat untuk kesalahan), sekali-kali lihatlah kebawah jadi kamu tahu setinggi apa kamu telah terbang...
Melihat kebawah juga berarti kamu menghargai hidup yang tidak sempurna ini, jika kamu melihat diri kamu sampai di titik ini, kamu akan merasa sebagai satu dari sedikit orang yang diberikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk sampai di sini, sebagai orang yang dipilih untuk sampai di titik ini. Jika kita lihat dari sisi siapa yang berhak, mungkin aku atau kamu bukan orang yang berhak mendapatkan semua itu, banyak orang yang jauh lebih baik dari kita dan jika Tuhan menggunakan kriteria itu, niscaya kita akan tersingkir dari nominasi.
Dan jika kamu sampai disisi ini sekarang itu adalah sebuah karunia dari Yang Diatas, maka belajarlah untuk bersyukur, belajarlah untuk menjadi lebih baik dan seterus-seterusnya karena mungkin kesempatan yang kita punya hanya sekali dan bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bersyukur atas karunia yang ia dapatkan?
Dan memang seharusnya kita juga berbuat seperti itu, setinggi apapun pencapaian kita sekarang sepantasnya kita juga melihat kebawah, dengan melihat kebawah kita akan merasa lebih bersyukur atas apa yang kita raih, dan seberapa beruntung kita bila dibandingkan dengan mereka yang lain
Melihat ke atas berarti kita hanya melihat apa yang tidak kita punya sekarang, dan bukan pada apa yang kita punya sekarang, kita lebih suka menghitung dan menilai sesuatu dari apa yang bisa kita hitung, yang bisa kita rating dan seterus dan seterusnya.
Sebenarnya tidak salah sih melihat keatas, karena dengan itu kita bisa berharap, kita bisa bermimpi dan berusaha menjadikannya sebuah kenyataan karena langit itu tak berbatas (ingat ada pepatah yang mengatakan bahwa diatas langit ada langit lagi...) – (namun di langit yang luas itu tidak ada tempat untuk kesalahan), sekali-kali lihatlah kebawah jadi kamu tahu setinggi apa kamu telah terbang...
Melihat kebawah juga berarti kamu menghargai hidup yang tidak sempurna ini, jika kamu melihat diri kamu sampai di titik ini, kamu akan merasa sebagai satu dari sedikit orang yang diberikan kesempatan oleh yang Maha Kuasa untuk sampai di sini, sebagai orang yang dipilih untuk sampai di titik ini. Jika kita lihat dari sisi siapa yang berhak, mungkin aku atau kamu bukan orang yang berhak mendapatkan semua itu, banyak orang yang jauh lebih baik dari kita dan jika Tuhan menggunakan kriteria itu, niscaya kita akan tersingkir dari nominasi.
Dan jika kamu sampai disisi ini sekarang itu adalah sebuah karunia dari Yang Diatas, maka belajarlah untuk bersyukur, belajarlah untuk menjadi lebih baik dan seterus-seterusnya karena mungkin kesempatan yang kita punya hanya sekali dan bukankah sebaik-baiknya manusia adalah yang bersyukur atas karunia yang ia dapatkan?
Kehilangan
Setiap pertemuan adalah sebuah perpisahan, dia seperti dua sisi mata uang yang saling terikat dan tak dapat dipisahkan, dan apa yang membuat uang itu berharga? Karena dia punya dua sisi, jika uang itu hanya punya satu sisi saja, maka ia takkan berharga
Jika kau ingin menghargai sebuah pertemuan maka rasakanlah perpisahan, maka kau akan tahu bagaimana berartinya sebuah pertemuan. Seringkali kita menyesal melewatkan waktu di saat kita bisa, disaat semuanya mungkin dan lain sebagainya, seringkali kita tidak peduli dengan apa yang kita punya, kita mencari apa yang tidak kita capai dan meninggalkan apa yang kita dapat sekarang hingga suatu saat kita sampai pada satu titik dan bertanya kenapa aku sia-siakan sesuatu yang aku punya demi yang lain yang bahkan aku tak kenal.
Semua orang akan mencapai poin itu cepat atau lambat, kau mungkin sekarang berkata tidak, tapi tunggulah beberapa tahun lagi, kau akan sampai ke titik ini sadar atau tidak, dan saat itu datang semua telah terlambat. Memang menyakitkan kehilangan seseorang yang pernah kita kenal, orang yang pernah dekat berubah menjadi orang lain dan jatuh dalam hitungan hari, menyakitkan melihat orang yang kita sayang menjadi orang lain dan kita tak dapat melakukan apapun untuk “menyelamatkannya”
Bukankah kehilangan itu mendewasakan? Menyadarkan kita bahwa dunia ini memang tidak sempurna, menyadarkan kita bahwa semua takkan ada yang abadi dan diatas semuanya masih ada Tuhan, walaupun kadang kita berpikir “Tuhan mempermainkan hidup kita” , yah… itu adalah rencana Tuhan, yang bisa kita lakukan adalah berikan yang terbaik yang kita bisa, minimal Tuhan tahu kita telah mencoba...
Jika kau ingin menghargai sebuah pertemuan maka rasakanlah perpisahan, maka kau akan tahu bagaimana berartinya sebuah pertemuan. Seringkali kita menyesal melewatkan waktu di saat kita bisa, disaat semuanya mungkin dan lain sebagainya, seringkali kita tidak peduli dengan apa yang kita punya, kita mencari apa yang tidak kita capai dan meninggalkan apa yang kita dapat sekarang hingga suatu saat kita sampai pada satu titik dan bertanya kenapa aku sia-siakan sesuatu yang aku punya demi yang lain yang bahkan aku tak kenal.
Semua orang akan mencapai poin itu cepat atau lambat, kau mungkin sekarang berkata tidak, tapi tunggulah beberapa tahun lagi, kau akan sampai ke titik ini sadar atau tidak, dan saat itu datang semua telah terlambat. Memang menyakitkan kehilangan seseorang yang pernah kita kenal, orang yang pernah dekat berubah menjadi orang lain dan jatuh dalam hitungan hari, menyakitkan melihat orang yang kita sayang menjadi orang lain dan kita tak dapat melakukan apapun untuk “menyelamatkannya”
Bukankah kehilangan itu mendewasakan? Menyadarkan kita bahwa dunia ini memang tidak sempurna, menyadarkan kita bahwa semua takkan ada yang abadi dan diatas semuanya masih ada Tuhan, walaupun kadang kita berpikir “Tuhan mempermainkan hidup kita” , yah… itu adalah rencana Tuhan, yang bisa kita lakukan adalah berikan yang terbaik yang kita bisa, minimal Tuhan tahu kita telah mencoba...
Outside Is Just The Skin
Ini sebenarnya terlintas secara tidak sengaja saat disebuah acara TV hostnya menanyakan mengapa anda memilih dia, dan orang yang ditanya menjawab yang secara tidak langsung mengatakan bahwa saya memilih dia karena dia terlihat bla, bla dan bla. Sebuah jawaban yang jujur dalam arti mungkin mewakili banyak orang yang dalam memilih sesuatu lebih melihat dari luar.
Memang tidak salah sih bila kita melihat seseorang berdasarkan outsidenya, outside berlaku bila kita belum mengenal siapa dia sebenarnya. Namun bila kamu telah menjadi hubungan dalam skala apapun selama beberapa waktu, maka outside itu bisa saja bergeser dari posisi 1 menjadi posisi 200 misalnya
Apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan? Apakah secara fisik saja? Apakah secara materi? Atau apa?... memang semua itu perlu, namun apakah itu semua bisa menggantikan how he or she treat you? Apakah itu semua bisa menggantikan arti dari kehadiran seseorang? Aku rasa tidak...
Memang tidak salah sih bila kita melihat seseorang berdasarkan outsidenya, outside berlaku bila kita belum mengenal siapa dia sebenarnya. Namun bila kamu telah menjadi hubungan dalam skala apapun selama beberapa waktu, maka outside itu bisa saja bergeser dari posisi 1 menjadi posisi 200 misalnya
Apa yang kita butuhkan dalam sebuah hubungan? Apakah secara fisik saja? Apakah secara materi? Atau apa?... memang semua itu perlu, namun apakah itu semua bisa menggantikan how he or she treat you? Apakah itu semua bisa menggantikan arti dari kehadiran seseorang? Aku rasa tidak...
Wednesday, February 3, 2010
Status?
Status? Apa yang ada dalam benak kita, mungkin yang punya FB alias facebook bakal nyambungnya kesitu atau yang lagi jomblo bakal mikir ke hubungan dengan seseorang. Status disini tidak berhubungan dengan itu semua, ini berkaitan dengan seberapa kita peduli dengan orang lain
Maksudnya adalah seringkali kita peduli dengn orang lain dikarenakan kita punya hubungan dengan mereka, atau dengan kata lain karena dia pacar kita, teman dekat kita, saudara kita dan lain dan lain sebagainya. Jika hubungan itu selesai maka selesai pula perhatian kita dan titik, tak ada lagi selain itu.
Alangkah ironisnya bila kita memakai standar yang seperti itu, apakah orang peduli dengn orang lain dikarenakan status? Jika sekarang seseorang dihargai karena dia adalah seorang bos, lalu siapa yang peduli ketika dia tidak berstatus bos lagi? Jika anda dihargai karena orang-orang merasa anda penting, pastinya anda akan ditinggalkan ketika anda tidak menjadi siapa-siapa
Setiap tindakan pasti punya alasan, tidak ada orang yang waras kemudian melakukan sebuah tindakan yang tidak beralasan, dalam hal ini jika kita peduli dengan seseorang kita perlu sebuah trigger sebagai “alasan” kita untuk melakukan itu. Jika kita sayang dengan seseorang maka kita peduli, namun jika kita sekarang berpisah, setidaknya itu tidak memutus rasa peduli yang pernah kita rasa kepadanya, bukankah jika orang yang kita sayang menjadi seseorang yang lebih baik dari sekarang kita juga turut senang? Jangan beralasan karena kita putus lalu kita bersikap cuek dan sebodo amat dengan dia apalagi bila semua tidak berakhir dengan baik (jika kita memang benar sayang padanya)
Dalam hitungan apapun kita turut “bertanggung jawab” dengan dia, bukan dalam arti mengatur dan mengekang, namun sebagai pihak yang peduli, karena bagaimanapun jika ia menjadi lebih buruk maka yang merasa sedih adalah kita dan bukan orang lain.
Maksudnya adalah seringkali kita peduli dengn orang lain dikarenakan kita punya hubungan dengan mereka, atau dengan kata lain karena dia pacar kita, teman dekat kita, saudara kita dan lain dan lain sebagainya. Jika hubungan itu selesai maka selesai pula perhatian kita dan titik, tak ada lagi selain itu.
Alangkah ironisnya bila kita memakai standar yang seperti itu, apakah orang peduli dengn orang lain dikarenakan status? Jika sekarang seseorang dihargai karena dia adalah seorang bos, lalu siapa yang peduli ketika dia tidak berstatus bos lagi? Jika anda dihargai karena orang-orang merasa anda penting, pastinya anda akan ditinggalkan ketika anda tidak menjadi siapa-siapa
Setiap tindakan pasti punya alasan, tidak ada orang yang waras kemudian melakukan sebuah tindakan yang tidak beralasan, dalam hal ini jika kita peduli dengan seseorang kita perlu sebuah trigger sebagai “alasan” kita untuk melakukan itu. Jika kita sayang dengan seseorang maka kita peduli, namun jika kita sekarang berpisah, setidaknya itu tidak memutus rasa peduli yang pernah kita rasa kepadanya, bukankah jika orang yang kita sayang menjadi seseorang yang lebih baik dari sekarang kita juga turut senang? Jangan beralasan karena kita putus lalu kita bersikap cuek dan sebodo amat dengan dia apalagi bila semua tidak berakhir dengan baik (jika kita memang benar sayang padanya)
Dalam hitungan apapun kita turut “bertanggung jawab” dengan dia, bukan dalam arti mengatur dan mengekang, namun sebagai pihak yang peduli, karena bagaimanapun jika ia menjadi lebih buruk maka yang merasa sedih adalah kita dan bukan orang lain.
Kelembaman
Jika kita dulu belajar fisika pasti kita kenal dengan istilah kelembaman. Yah contoh singkatnya seperti benda yang bergerak akan punya kecenderungan terus bergerak dan benda yang diam akan punya kecenderungan diam.
Dalam hidup kelembaman juga berlaku, seringkali kita berat memulai sesuatu yang sebenarnya kita sadar itu adalah sebuah langkah yang baik bagi kita, kita terbiasa dengan kondisi dimana kita nyaman walaupu kita sadar mungkin itu akan berdampak buruk bagi kita
Kita membiasakan diri menutup hati karena hati akan mengatakan sebuah kebenaran dan kebenaran itu menyakitkan, maka kita dengan sadar berusaha membungkamnya agar kita tidak mendengarnya. Kita lebih suka berlari dan berlari dan berlari dari kenyataan karena kita takut menghadapinya, itu menjadikan kita tak lebih baik dari kemarin. Dalam skala apapun memulai sesuatu yang baik itu berat, tak ada yang bisa menjamin semua akan baik-baik saja (kecuali Tuhan tentunya..)
Kita seringkali tak ubahnya seperti balok kayu yang bergerak ketika ada dorongan, mungkin itu bukan yang penting, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa sedikit lebih baik dari kemarin, tak banyak, hanya sedikit saja, karena bila tidak kita yang akan merugi, kenapa? Karena waktu berjalan maju dan ini adalah jalan satu arah yang tidak mungkin kamu berputar untuk menyelesaikan apa-apa saja yang tertinggal. Jika itu terjadi bukankah kita akan menjadi orang-orang yang merugi?...
Dalam hidup kelembaman juga berlaku, seringkali kita berat memulai sesuatu yang sebenarnya kita sadar itu adalah sebuah langkah yang baik bagi kita, kita terbiasa dengan kondisi dimana kita nyaman walaupu kita sadar mungkin itu akan berdampak buruk bagi kita
Kita membiasakan diri menutup hati karena hati akan mengatakan sebuah kebenaran dan kebenaran itu menyakitkan, maka kita dengan sadar berusaha membungkamnya agar kita tidak mendengarnya. Kita lebih suka berlari dan berlari dan berlari dari kenyataan karena kita takut menghadapinya, itu menjadikan kita tak lebih baik dari kemarin. Dalam skala apapun memulai sesuatu yang baik itu berat, tak ada yang bisa menjamin semua akan baik-baik saja (kecuali Tuhan tentunya..)
Kita seringkali tak ubahnya seperti balok kayu yang bergerak ketika ada dorongan, mungkin itu bukan yang penting, yang lebih penting adalah bagaimana kita bisa sedikit lebih baik dari kemarin, tak banyak, hanya sedikit saja, karena bila tidak kita yang akan merugi, kenapa? Karena waktu berjalan maju dan ini adalah jalan satu arah yang tidak mungkin kamu berputar untuk menyelesaikan apa-apa saja yang tertinggal. Jika itu terjadi bukankah kita akan menjadi orang-orang yang merugi?...
Subscribe to:
Posts (Atom)