Setiap orang memiliki alasan atas segala sesuatunya, untuk apapun itu, yang buruk ataupun yang baik. Alasan yang dibuat berdasarkan versi kita agar kita terlihat “benar”, alasan yang mungkin sebenarnya atau kita “membelokkannya” agar terlihat benar.
Alasan (dengan apapun bentuknya) seringkali digunakan sebagai “media penyelamat” bagi sebagian orang, walaupun mereka mungkin sadar bahwa karena alasan yang mereka buat bisa jadi menyeret orang lain ke penjara menggantikan dia.
Sekarang pertanyaannya adalah apakah semuanya perlu alasan? Apakah semua yang kita lakukan perlu sebuah alasan? Jawabannya mungkin ya, tapi juga mungkin tidak. Sesuatu yang bisa di urut berdasarkan logika pasti punya alasan dan yang melibatkan perasaan bisa jadi perlu alasan, bisa juga tidak. Contohnya jika seseorang bekerja, pasti dia punya alasan, apakah karena tanggungjawab pribadi, atau karena tujuannya adalah mendapatkan uang dan seterusnya dan seterusnya. Seseorang yang belajar pasti punya alasan, yaitu ingin bisa atau lebih paham.
Lalu bagaimana dengan hal-hal yang lebih menggunakan perasaan? Mungkin dalam beberapa poin kita tidak butuh alasan, misalnya saja ketika seseorang bertanya pada kita, kenapa kamu suka padanya? Bisa saja kita jawab karena fisik, karena dia orangnya begini dan seterusnya. Ok itu memang sebuah jawaban, tapi bagaimana jika kita menggunakan logika terbalik, jika seseorang mengatakan karena dia begini secara fisik, jika suatu saat dia tidak seperti yang sekarang kamu lihat berarti kamu akan “menyingkirkan” dia dari daftar kamu? Kita kamu mengatakan karena dia begini, bisa jadi jika suatu saat dia berubah (dan semua orang akan berubah, cepat atau lambat) maka kamu akan melemparnya ke tempat sampah.
Apakah alasan itu penting jika kita menyayangi seseorang? Lebih penting dari rasa sayang itu sendiri? Alasan seringkali membuat kita “buta” (bukan dalam arti kita salah karena merasa sayang pada orang lain) tapi seringkali itu menjadikan kita melihat segala sesuatunya hanya dari sisi kita saja, menolak sudut pandang yang lain, dan ujung-ujungnya kita menilai segala sesuatunya berdasarkan apa yang kita anggap benar.
Sekali lagi ini bukan perkara benar atau salah, ini tentang alasan yang kadang kita cari untuk membenarkan apa yang kita lakukan. Jika kamu memang benar sayang, jangan dikarenakan kau memiliki alasan untuk menyayanginya…
Dulu salah satu temanku pernah bilang “cinta itu bukan karena.. tapi walaupun…” dan itu memang benar, aku sayang padamu bukan karena kau… tapi walaupun kau… aku akan tetap sayang padamu.
No comments:
Post a Comment