Tuesday, March 30, 2010

Forgive

Forgive dalam bahasa Indonesia berarti memaafkan, satu kata yang sederhana namun sulit dalam pelaksanaannya. Kita seringkali dihadapkan pada dua pilihan antara memaafkan dan membalas dendam, dan banyak diantara kita yang lebih memilih membalaskan dendam ketimbang memaafkan.

Memaafkan adalah sebuah proses penerimaan bahwa hidup ini memang tidak sempurna, dan kita sebagai manusia pasti berbuat salah. Dengan memaafkan itu juga berarti kita belajar dari sebuah pengalaman bahwa tidak semua dapat berjalan seperti apa yang kita inginkan dan semua terjadi atas satu alasan.

Memaafkan adalah sebuah proses yang rumit dan melelahkan. Bagaimana kita bisa “berkompromi” dengan masa lalu, menjalani saat sekarang dan melihat ke masa depan. Memaafkan itu memerlukan energi yang lebih besar ketimbang membalaskan dendam, karena disitu kita dalam posisi sebagai eksekutor dalam arti apakah kita yang akan “memutuskan” rantai ini atau akan melanjutkannya dalam bentuk balas dendam yang mungkin membayar “kekalahan” kita dulu.

Jika kita memilih sebagai bentuk balas dendam, itu hanya memperpanjang efek domino atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Misalnya saja kita dalam sebuah hubungan dikecewakan, karena kita kecewa maka kekecewaan itu kita jadikan alasan untuk melakukan hal yang sama pada orang lain. Jika itu yang terjadi berarti kita “menempatkan diri kita” sama seperti orang yang telah mengecewakan kita dan itu hanya akan memicu efek yang berkelanjutan pada hidup orang lain. Mungkin dalam kalimat gampangnya bisa dibilang kita dikecewakan orang lain, dan kita balas ke orang lain, dan orang lain membalasnya ke orang lain dan seterusnya sampai kiamat =)

Jika kita memilih untuk memaafkan berarti kita telah berperan untuk menghentikan rotasi balas dendam, minimal dalam hidup kita dan semoga tidak terjadi pada orang lain, cukup kita. Memang itu terdengar terlalu muluk bagi sebagian orang, kita tidak berperan sebagai manusia yang suci alias tak punya dosa sama sekali dan selalu berada di sisi kebaikan, bagaimanapun kita sebagai manusia yang pastinya merasa sakit bila dikecewakan, namun apakah itu akan kita gunakan sebagai alasan untuk melakukan hal yang sama pada orang lain? Aku kira tidak ada seorangpun yang nyaman bila diposisikan sebagai “sasaran tembak” alias sebagai obyek balas dendam atas apa yang tidak mereka lakukan. Orang bolehsaja mengatakan semua itu kan sama, jadi itu wajar, namun bagaimana bila kamu yang diletakkan diposisi itu?

Memaafkan juga berarti mengenal diri kita, seperti halnya kita berteman dengan orang lain, jika suatu saat sahabat kita misalnya marah karena kita mengenal orangnya, maka kita dapat menyimpulkan mungkin karena ini atau itu dia marah dan dengan itu kita dapat mengintrospeksi diri kita dan kita akan melakukannya dengan sadar tanpa keterpaksaan, jika kita tidak kenal, apa yang akan kita katakan? Paling-paling “bodo amat, emangnya situ siapa kenal aja kaga..”

Memaafkan juga bisa dikatakan sebagai sebuah bentuk perdamaian dengan masa lalu kita, banyak orang yang mengatakan saya baik-baik saja, namun mereka tidak pernah berdamai dengan diri mereka sendiri, berdamai dengan masa lalunya dan meletakkannya dalam penolakan, mereka yang seperti itu sebenarnya tidak pernah sampai kemanapun, ibarat orang main game jika level yang bawah tidak selesai sampai kapanpun kita main, kita tidak akan pernah sampai ke level diatasnya. Nah yang sekarang menjadi pertanyaan adalah telah sampai manakah kita? coba tanya diri kita masing-masing.

No comments:

Post a Comment