Sebuah kata yang mungkin amat sering kita dengar dan kita ucapkan. Terimakasih hanyalah sebuah kata, namun berarti banyak.
Banyak orang berterimakasih hanya sebatas ucapan di bibir saja, sekadar “penghargaan” atas bantuan yang diberikan seseorang terhadap kita, dan itu menjadikan kata yang seharusnya bermakna lebih menjadi “berkurang” maknanya.
Dulu saya pernah membaca sebuah cerpen kalau tidak salah di majalah Bobo, disitu diceritakan bahwa ada seorang anak yang suka menolong, namun setiapkali orang yang ditolong mengucapkan terimakasih, ia berkata “jangan berterimakasih kepada saya, tapi berterimakasihlah kepada Tuhan”, dan memang benar seharusnya kita lebih berterimakasih kepada Tuhan karena Dia memperkenankan seseorang menolong kita.
Berterimakasih dapat dikatakan sebagai “pengakuan” kita atas segala kekurangan kita, tidak ada manusia yang sempurna, dan karena ketidaksempurnaan itulah yang “mewajibkan” kita untuk saling tolong menolong dan saling melengkapi.
Nah pertanyaannya sekarang adalah seberapa sering kita berterimakasih kepada Tuhan atas segala karunia yang Ia berikan pada kita? Kita seringkali lebih suka berterimakasih pada orang lain dan menempatkan Tuhan dalam urutan ke 300 dari terimakasih kita, bukankah bila Tuhan tak berkehendak semua ini takkan terjadi?
No comments:
Post a Comment