Wednesday, February 3, 2010

Status?

Status? Apa yang ada dalam benak kita, mungkin yang punya FB alias facebook bakal nyambungnya kesitu atau yang lagi jomblo bakal mikir ke hubungan dengan seseorang. Status disini tidak berhubungan dengan itu semua, ini berkaitan dengan seberapa kita peduli dengan orang lain

Maksudnya adalah seringkali kita peduli dengn orang lain dikarenakan kita punya hubungan dengan mereka, atau dengan kata lain karena dia pacar kita, teman dekat kita, saudara kita dan lain dan lain sebagainya. Jika hubungan itu selesai maka selesai pula perhatian kita dan titik, tak ada lagi selain itu.

Alangkah ironisnya bila kita memakai standar yang seperti itu, apakah orang peduli dengn orang lain dikarenakan status? Jika sekarang seseorang dihargai karena dia adalah seorang bos, lalu siapa yang peduli ketika dia tidak berstatus bos lagi? Jika anda dihargai karena orang-orang merasa anda penting, pastinya anda akan ditinggalkan ketika anda tidak menjadi siapa-siapa

Setiap tindakan pasti punya alasan, tidak ada orang yang waras kemudian melakukan sebuah tindakan yang tidak beralasan, dalam hal ini jika kita peduli dengan seseorang kita perlu sebuah trigger sebagai “alasan” kita untuk melakukan itu. Jika kita sayang dengan seseorang maka kita peduli, namun jika kita sekarang berpisah, setidaknya itu tidak memutus rasa peduli yang pernah kita rasa kepadanya, bukankah jika orang yang kita sayang menjadi seseorang yang lebih baik dari sekarang kita juga turut senang? Jangan beralasan karena kita putus lalu kita bersikap cuek dan sebodo amat dengan dia apalagi bila semua tidak berakhir dengan baik (jika kita memang benar sayang padanya)

Dalam hitungan apapun kita turut “bertanggung jawab” dengan dia, bukan dalam arti mengatur dan mengekang, namun sebagai pihak yang peduli, karena bagaimanapun jika ia menjadi lebih buruk maka yang merasa sedih adalah kita dan bukan orang lain.

No comments:

Post a Comment